Persiapan Kongres Terganggu soal Tim 12

Kompas.com - 03/03/2010, 04:10 WIB

JAKARTA, KOMPAS  - Persiapan untuk menggelar Kongres Sepak Bola Nasional terganggu polemik seputar keberadaan unsur PSSI dalam Tim 12 yang dibentuk pekan lalu. PWI menilai, unsur PSSI tidak perlu masuk Tim 12. Namun, PSSI ngotot masuk tim bentukan Menteri Pemuda dan Olahraga itu.

Tarik ulur seputar posisi unsur PSSI dalam Tim 12 itu mendominasi agenda rapat di Kantor Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Jakarta, Selasa (2/3). Ketua Panitia Pengarah Kongres Sepak Bola Nasional Sumohadi Marsis menganggap, unsur PSSI tidak perlu masuk Tim 12 karena mereka akan dievaluasi dalam kongres yang akan digelar di Malang, 30-31 Maret.

”PWI meminta PSSI tidak masuk kepanitiaan kongres karena mereka yang akan dibicarakan dalam kongres. PSSI tetap akan diundang secara terhormat ikut kongres sebagai narasumber,” kata Sumohadi seusai rapat.

Menurut wartawan senior itu, belum ada keputusan soal perlu ada-tidaknya unsur PSSI dalam Tim 12. Akan tetapi, Sekjen PSSI Nugraha Besoes menyatakan, pihaknya tak mau keluar dari Tim 12 karena itu sudah menjadi kesepatan dalam rapat Menpora.

”PSSI mau diomongin atau dinilai bagus buruk, dicaci maki, tidak masalah. Namun, kita tidak mau hanya disuruh mendengar dalam kongres. Sebagai pengurus PSSI, kita tentu paling mengerti soal pengelolaan sepak bola negeri ini,” kata Nugraha.

Tim 12 dibentuk dalam rapat di Kantor Menpora, Kamis pekan lalu. Diketuai mantan Ketua PSSI dan mantan Ketua KONI Agum Gumelar, tim itu beranggotakan 12 orang wakil dari empat unsur, yakni PWI, KONI, Kantor Menpora, dan PSSI.

Selain menentukan kepanitiaan kongres, Tim 12 juga akan menetapkan format acara kongres dan juga siapa peserta-peserta kongres. Setelah kepanitiaan terbentuk, tim itu akan bubar.

Terkait polemik ada atau tidaknya unsur PSSI dalam kepanitian kongres, wartawan senior lainnya, Mahfudin Nigara, mengingatkan bahwa mandat dan amanat menggelar kongres diberikan Presiden kepada PWI. ”Ibaratnya, Presiden memberi kotak, kunci, dan mobil pada PWI. Soal siapa yang akan diajak masuk mobil, itu terserah PWI. Pesan Presiden, mobil itu jangan dipakai menabrak,” kata Nigara.

 Aspirasi masyarakat

Pada jumpa pers terpisah, Ketua PWI Pusat Margiono menyatakan, keterlibatan wartawan sebagai penyelenggara Kongres Sepak Bola Nasional terkait posisi wartawan sebagai bagian integral dari masyarakat. ”Sepak bola olahraga paling digemari di masyarakat. Sepatutnya wartawan mendengar aspirasi masyarakat,” katanya.

Masyarakat pencinta sepak bola saat ini dilanda kegelisahan akibat terpuruknya prestasi sepak bola Indonesia akhir-akhir ini yang sudah mencapai titik nadir. Kegelisahan itu juga dirasakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pencetus ide Kongres Sepak Bola Nasional.

Nigara menambahkan, peran wartawan dalam penyelenggaraan kongres itu terkait fungsinya sebagai salah satu dari delapan pembina olahraga. ”Kita bisa belajar dari kasus Meksiko pada 1980-an. Meksiko pernah dibekukan FIFA dua tahun karena Federasi Sepak Bola Meksiko melakukan pencurian umur atas laporan wartawan,” katanya.

 Jangan acak-acak PSSI

Menanggapi gagasan untuk menggulirkan kongres luar biasa dalam pertemuan di Malang, akhir Maret, Nugraha mengingatkan semua pihak untuk menghormati aturan di PSSI. ”Kami berharap acara itu menjadi pertemuan moral force (kekuatan moral), bukan pressure group (kelompok penekan),” kata Nugraha.

”Kalau ada upaya-upaya untuk memaksakan kehendak di luar tata tertib organisasi, kita akan lapor FIFA dan segalanya bakal kusut,” ujar dia. ”Yang akan dilihat FIFA, pengurus PSSI saat ini karena komitmen pada kongres yang juga diketahui AFC dan FIFA, kepengurusan PSSI saat ini berlangsung hingga 2011 tanpa menyebutkan bulan.”

Nugraha mengatakan, pengurus PSSI telah terusik oleh upaya sejumlah pihak untuk menjatuhkan kepengurusan PSSI. ”Muruah (kehormatan) PSSI jangan diacak-acak. Kalau ingin ganti pengurus, bisa dilakukan nanti pada 2011 (dalam Kongres PSSI),” katanya. (SAM)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau