Andalan Nike di Medan Tempur Sepak Bola

Kompas.com - 05/03/2010, 03:17 WIB

Oleh ANTON SANJOYO

Ibarat perang, bagi Nike, sepak bola adalah medan tempur tanpa ujung. Fakta bisnis mencatat, Nike mendominasi pasar pada cabang olahraga atletik dan bola basket. Namun, di sepak bola, olahraga paling populer sejagat, perjuangan mereka seperti tak pernah habis sehingga perlu terus berinovasi dan menemukan perangkat senjata baru.

Menyadari para kompetitor sudah lebih dulu mapan di cabangolahraga palingmasyhur ini, ditambah kepercayaan konsumen yang masih rapuh serta ramalan pemulihan ekonomi
yang masih panjang, tak ada jalan lain bagi Nike untukmeluncurkan produk-produk andalannya, pada timing yang tepat, menjelang ajang agung Piala Dunia (PD) 2010, di Afrika
Selatan, Juni mendatang.Seperti diutarakan Mark Parker, sang CEO, dalam beberapa tahun terakhir, Nike sukses mengambil alih pangsa pasar sepak bola, terutamadari sang pesaing abadi, Adidas.

”Kami memasuki periode di mana kami memperbesar bagian di pangsa sepak bola. Piala Dunia akan menjadi peluang paling besar untuk mewujudkan ambisi Nike,” ujar Parker di sela-sela peluncuran sepatu Mercurial Vapor Superfly II, di London, Inggris, medio pekan lalu.

Parker memang tidak menyebut berapa raupan pangsa pasar Nike dalam sepak bola, utamanya pada produk-produk sepatu, apparel dan peralatan. Namun, inovasi yang tak pernah henti, terlebih dalam upaya penyempurnaan utilitas produk, memperlihatkan betapa seriusnya perusahaan asal Oregon, Amerika Serikat, ini menjadi pemain utama dalam bisnis sepak bola.

Selain meluncurkan generasi terbaru sepatu Mercurial, perusahaan yang populer dengan slogannya, ”Just Do It”, itu juga merilis kostum terbaru yang akan dipakai oleh sembilan negara di kancah PD 2010. Istimewanya, kostum yang akan dipakai tim Brasil, Belanda, Portugal, Amerika Serikat, Korea Selatan, Australia, Selandia Baru, Serbia, dan Slovenia itu terbuat dari 100 persen bahan daur ulang botol plastik!

Maksimalkan traksi

Khusus mengenai sepatu Mercurial Vapor Superfly II—yang merupakan pengembangan dari generasi pertama, Mercurial Vapor, yang sudah diproduksi sejak 1998—tim perancang Nike sangat fokus pada penyempurnaan alas bagian depan untuk memaksimalkan traksi (daya cengkeram) di lapangan rumput alami. Menurut perancangnya, Andy Caine, cerita di balik desain alas Superfly II memang sangat diinspirasi oleh kasus-kasus terpeleset (slipping) yang dialami oleh pemain, terutama pemain dengan karakter pelari cepat.

Laboratorium Nike dalam penelitiannya sepanjang gelaran PD 2006 di Jerman mendapatkan data terjadinya kasus 845 kepeleset dalam 63 pertandingan, atau rata-rata 14 kasus kepeleset tiap laganya. Bagi pemain depan dengan karakter cepat seperti Cristiano Ronaldo, satu kasus kepeleset saja bisa menentukan hasil pertandingan karena sering kali terjadi pada momen peluang emas mencetak gol.

Para perancang Nike kemudian meminta masukan dari sejumlah pemain top, seperti Didier Drogba, Zlatan Ibrahimovic dan Alexandre Pato, tentang alas sepatu yang memungkinkan pemain berakselerasi lebih cepat dan meminimalisasi kasus terpeleset. Para perancang Nike lantas membuat kesimpulan, sepatu yang dimaksud harus punya bagian alas depan—yang bersentuhan langsung dengan jempol kaki—yang adaptif, dan mampu mengatur secara otomatis tinggi rendahnya sampai dengan 3 milimeter, berdasarkan tekanan yang diberikan pemain saat bermanuver.

”Kami menyebutnya traction on demand,” ujar Caine sembari menambahkan, secara umum, bagian alas sepatu Mercurial Vapor Superfly II memang dirancang untuk memaksimalkan daya cengkeram. ”Tetapi daya cengkeram bagian jempol sebagai tumpuan pertama saat berlari dan bermanuver menjadi fokus utama,” ujar Caine yang belajar desain industrial di Universitas Northumbria, Newcastle.

Pemain terbaik dunia 2008, Cristiano Ronaldo, yang dijadikan ikon utama Superfly II, mengakui, sepatu tercanggih yang pernah dirancang Nike ini sungguh memberikan daya cengkeram yang dibutuhkannya saat memulai sprint dan bermanuver mengubah arah lari.

”Ini semua tentang langkah pertama dalam akselerasi, tetapi meliuk-liuk di antara pemain bertahan juga penting. Buat saya, Mercurial Vapor Superfly II bekerja untuk keduanya. Jadi saya bisa mengalahkan bek dan mencetak gol sekaligus,” ujar Ronaldo yang kini bermain untuk Real Madrid.

Kompas yang sempat menjajal kecanggihan Superfly II di lapangan Burton Court, London Barat, juga membuktikan kesaksian Ronaldo. Di lapangan yang basah ini, nyaris tak ada kesulitan dalam berakselerasi atau memulai sprint menggunakan sepatu yang rencananya akan masuk pasar komersial pada tanggal 1 April 2010 tersebut.

Hanya saja, bagi pemain yang punya tipe telapak kaki lebar, adaptasi terhadap Superfly II membutuhkan waktu. Dengan model potongan yang cenderung menyempit di bagian depan, pemain bertelapak kaki lebar akan merasakan tekukan yang kurang nyaman saat bertumpu pada ujung kaki.

Namun, perasaan kurang ini paling lama berlangsung selama sepuluh menit. Setelah itu, Mercurial Vapor Superfly II menunjukkan kecanggihannya sebagai andalan baru Nike.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau