Ekonom: Pidato SBY Kesankan "Head to Head" dengan DPR

Kompas.com - 05/03/2010, 12:31 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Respons Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atas kasus Bank Century, Kamis malam, dianggap belum dapat meyakinkan pelaku pasar atas kepastian kondisi politik ekonomi di Indonesia. Ekonom Econit, Hendri Saparini, menilai, pidato Presiden justru menimbulkan ketidakpastian kondisi politik ekonomi karena sarat perbedaan pandangan dengan DPR. 

”Pidato Presiden kemarin itu sekadar cooling down. Tetapi, ini, kok, malah mau head to head sama DPR. Justru ini menimbulkan ketidakpastian,” kata Hendri di Jakarta, Jumat (5/3/2010).

Menurut dia, Presiden seharusnya menindaklanjuti keputusan Rapat Paripurna DPR untuk meyakinkan masyarakat dan pelaku pasar dengan memberikan kepastian penegakan hukum. Pasalnya, para investor membutuhkan kepastian politik dan penegakan hukum saat memutuskan untuk menanamkan investasinya di Indonesia.

Dia menilai, tidak ada kejutan dalam pernyataan Presiden. Dalam pidatonya, Presiden membela keputusan bail out Century sebesar Rp 6,7 triliun dengan alasan yang sudah sering dikemukakan sebelumnya. ”Tidak ada yang baru dari apa yang disampaikan. Isinya hanya sama saja. Bahwa bail out yang dikucurkan krisis itu tepat. Indikatornya dari sektor finansial. Padahal, itu kan tidak signifikan,” ucapnya.

Meski demikian, toh hingga kini pasar masih menunjukkan pergerakan yang positif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sesi pertama dibuka naik 0,56 persen atau 14,49 poin menjadi 2.580,135. Saat penutupan sesi pertama, IHSG bergerak dan berada pada 2.570,726.

Hendri mengatakan, isu pemakzulan Wakil Presiden Boediono dan penonaktifan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati tidak akan memengaruhi perekonomian. ”Pasar itu sudah terkondisikan. Masalah reshuffle itu sudah biasa. Enggak hanya di Indonesia, di luar negeri juga sering. Pasar sih tak terganggu,” ujarnya.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau