JAKARTA, KOMPAS.com — Mantan pengikut guru sipritual Anand Krishna yang diduga menjadi korban pria keturunan India itu satu per satu angkat bicara bagaimana kondisi di dalam Yayasan Anand Ashram. Mereka meyakini adanya indoktrinasi yang dilakukan Anand ataupun pengurus yayasan kepada murid-muridnya.
"Maya Safira (ketua yayasan) mendoktrin anak-anak umur 12 tahun hingga 25 tahun. Itu jelas ada di video rekaman," ucap mantan orang dekat Anand, Abrori, kepada Kompas.com di Jakarta, Minggu (7/3/2010).
Seperti diketahui, sebelumnya mantan pengikut Anand, yaitu Tara Pradibta Laksmi, Sumidah, dan Damitrius Baruno telah mengungkapkan hal itu kepada publik. Mereka juga mengungkapkan adanya dugaan pelecehan seksual.
Abrori menjelaskan, dalam rekaman berdurasi 34 menit 21 detik itu berisi kegiatan Following The Master di Padepokan One Earth, Ciawi, Bogor, selama tiga hari pada bulan Maret 2009. Kegiatan itu diikuti sekitar 30 orang, terdiri dari laki-laki dan perempuan. Tara saat itu menjadi koordinator pemuda-pemudi.
Berdasarkan rekaman video yang diterima Kompas.com, Maya terlihat memberikan ceramah yang disebut para korban sebagai doktrin kepada peserta. Maya dan para peserta tampak duduk bersila di atas lantai di suatu ruang terbuka tanpa dinding.
Di awal rekaman yang terjadi malam hari itu, Maya yang mengenakan baju lengan panjang dan celana berwarna oranye menanyakan beberapa hal kepada peserta.
Maya dalam rekaman menyebut Anand dengan sebutan Guru Ji. Menurut Abrori, sebutan itu memang biasa dikatakan untuk menyebut Anand. Selain itu, dalam komunitas mereka saling memberi salam Jay Guru Dev yang berarti Jaya Guru Dewa.
Dalam rekaman Maya menanyakan, apa yang mereka harapkan dari mengikuti program ini? Kenapa mereka tertarik ikut program ini? Lalu Anand menurut para peserta siapa? "Apa yang dikangenin dari Guru Ji?" tanya Maya.
Setelah itu, dalam rekaman Maya lalu mengatakan, "Kita harus memfokuskan diri untuk menjalankan suatu kehidupan yang jauh lebih luhur dari apa yang kita jalankan sekarang. Misalnya ingin berguru, yah keinginan kita harus kuat sekali sehingga dalam perjalanan berguru itu kita tidak terganggu dengan keinginan-keinginan kita lain," ucap dia.
Wanita berkacamata itu lalu menjelaskan 18 poin arti menjadi seorang murid. Pertama, terbebas dari rasa iri, cemburu, angkuh, sikap tidak sabaran, dan memiliki keinginan kuat untuk mengetahui kebenaran.
"Ngapain kita berguru? Ingin belajar. Belajar apa? Yah, belajar tentang kehidupan," ucap Maya.
"... pokoknya jadi seorang murid itu enggak ada harapan. Pokoknya, saya datang ke sini untuk berdekatan dengan seorang guru," tambah dia.
Arti menjadi seorang murid pada poin ke dua, kata Maya, harus patuh kepada guru. "Patuh itu maksudnya menjalankan perintah dan tidak melakukan hal-hal yang dilarang. Disuruh A yah lakukan A. Jangan disuruh A lakukan B, (itu) namanya tulalit," jelasnya.
Dikatakan Maya, mengikuti program itu bertujuan untuk mengikis rasa egois serta menimbulkan rasa cinta terhadap guru.
"Ketika kita muncul rasa cinta terhadap guru, kita rela deh guru diapain aja. Karena kita percaya, guru akan mengantarkan kita ke suatu tempat yang lebih baik," tegas Maya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang