Mongolia Kembali Belajar PNPM

Kompas.com - 08/03/2010, 19:43 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com- Sukses menjalankan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri membuat pemerintah Mongolia akan melanjutkan program tersebut. Kali ini mereka akan belajar pola desentralisasi yang diterapkan PNPM Mandiri.

Dalam jumpa pers di kantor Menko Kesra Jakarta, Senin (8/3/2010), PNPM Support Facility, Citra I Lestari, menyatakan, di Mongolia PNPM diberi nama  Sustainable Livelihood Project (SLP).

"SLP sudah dilakukan sejak tahun 2002 dan berhasil. Oleh karena itu, Mongolia berniat untuk menjalankan program tersebut untuk 2008-2012," kata Lestari berkait dengan kunjungan Deputi Menko Kesra bidang Penanggulangan Kemiskinan selaku Ketua Pelaksana Tim Pengendali PNPM Mandiri, Sujana Royat, Direktur SLP, Adiya Khashtsetseg, dan Utusan Bank Dunia China & Mongolia, Andrew Goodland.

Tujuan utama kunjungan kedua ini adalah untuk mempelajari pola desentralisasi yang diterapkan PNPM Mandiri di Indonesia.

Kunjungan pertama Mongolia dilakukan pada November tahun lalu ke Boyolali dan Sragen. "Sekarang, mereka akan ke Bali. Karena program ini berjalan baik di Bali." tutur Lestari.

Sebab, selama ini SLP di Mongolia masih mengambil dana dari pusat, bukan dana mandiri dari wilayah yang menjalankan program tersebut. Program yang sukses dijalankan pada periode 2002-2007 ini menghabiskan dana 23 juta dollar AS. Sedangkan untuk periode 2008-2012 dianggarkan 55 juta dollar AS.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau