Dayang Rindu yang Dirindu...

Kompas.com - 10/03/2010, 09:39 WIB

KOMPAS.com - Jika Cianjur di Jawa Barat memiliki padi pandanwangi dan Klaten di Jawa Tengah memiliki padi rojolele, Kabupaten Musi Rawas di Sumatera Selatan memiliki padi dayang rindu. Sama seperti padi unggul lainnya, dayang rindu atau dayang merindu memiliki rasa yang pulen dan aroma yang harum.

Bedanya, jika pandanwangi dan rojolele mudah ditemukan di luar daerah asalnya, dayang rindu sangat sulit ditemukan di pasaran, bahkan di daerah Musi Rawas sendiri.

M Rasyid (37), petani di Desa Mandi Aur, Kecamatan Muara Kelingi, Musi Rawas, Jumat (19/2), mengatakan, dayang rindu jarang ditemukan di pasaran karena saat panen tiba masyarakat memilih menyimpannya untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka setahun. Selain itu, untuk keperluan sedekah atau hajatan serta bibit pada musim tanam berikutnya.

Jika ada sisa, baru ”kelebihan” itu dijual ke pasar.

Keberadaan dayang rindu di pasaran juga sangat terbatas, hanya di Musi Rawas. Itu pun hanya beberapa saat setelah masa panen. Persediaan beras selama setahun hanya ada di rumah- rumah penduduk yang hasil panennya banyak.

”Tahun ini panen diperkirakan tiba pada Maret hingga April,” kata Rasyid.

Bentuk bulir padi dayang rindu kecil panjang dan lentik pada ujungnya. Bulir padi berwarna kuning keemasan. Warna beras yang dihasilkan tidak terlalu putih dan agak keras. Namun, setelah dimasak, aroma harumnya bisa menyebar hingga ke rumah tetangga.

Varietas padi lokal ini hanya dapat tumbuh di daerah Musi Rawas. ”Sejumlah warga mencoba menanamnya di luar Musi Rawas. Tanaman padi memang tumbuh, tetapi aromanya tak lagi wangi,” kata Sugiyanto (38), petani Mandi Aur lainnya.

Putri Dayang

Dalam legenda masyarakat setempat, padi dayang rindu berasal dari keberadaan Putri Dayang yang turun dari langit ke bumi dengan membawa beras untuk menolong masyarakat miskin. Masyarakat yang tak memiliki benih untuk menanam padi juga diberi benih. Padi yang dibawa Putri Dayang itulah yang secara turun-temurun dibudidayakan dan kemudian disebut padi dayang rindu.

Untuk dapat tumbuh, dayang rindu membutuhkan tanah dengan kelembaban tinggi. Karena itu, daerah pinggiran sungai adalah daerah yang paling cocok untuk tumbuhnya dayang rindu. Semakin dekat dengan sungai, padi ini dapat tumbuh hingga ketinggian lebih dari 2 meter.

Sebagai padi ladang, dayang rindu umumnya ditanam di sela-sela tanaman karet. Padi akan tumbuh baik jika usia tanaman karet masih di bawah tiga tahun. Jika lebih dari itu, padi akan sulit tumbuh besar karena dahan pohon karet mulai banyak dan menutupi sinar matahari yang dibutuhkan padi.

Batang padi dayang rindu terkenal kuat dan tahan roboh. Kondisi ini sangat berbeda dengan varietas padi lain yang dibudidayakan secara massal.

Dayang rindu termasuk padi ladang yang pengairannya hanya mengandalkan air hujan. Alhasil, padi ini hanya dapat ditanam setahun sekali. Masa tanamnya sekitar lima bulan atau 150 hari, lebih lama ketimbang padi unggul yang kurang dari empat bulan. Masa tanam umumnya dimulai Oktober-November dan dipanen Maret-April.

Tidak sulit

Petani padi dayang rindu lainnya yang ditemui di gubuknya di tengah areal tanaman padi di Mandi Aur, Doni (24), mengatakan, cara menanam padi dayang rindu tidaklah sulit. Tanah cukup ditugal (dilubangi) dengan tongkat kayu. Lubang-lubang yang tercipta dari tugalan itu kemudian diisi benih padi.

Perawatan tanaman pun masih dilakukan secara tradisional, bahkan cenderung mistis.

Rasyid menambahkan, padi ini tidak pernah dipupuk ataupun disemprot dengan pestisida. Jika hama menyerang, penanganannya dilakukan dengan membuat ramuan khusus dari daun-daunan yang dilengkapi doa dan mantra, lalu disebarkan secara simbolik ke sudut-sudut lahan tanaman padi yang terserang hama.

Selain hama, menurut Doni, gangguan juga berasal dari babi hutan dan siamang. Karena itu, menjelang musim panen tiba, masyarakat biasanya berjaga di gubuk-gubuk kecil di tengah ladang untuk menjaga padi dari serbuan hewan-hewan itu. Untuk mencegah masuknya babi hutan, lahan sekeliling sawah umumnya diberi pagar kawat berduri.

Proses budidayanya pun masih dilakukan secara turun-temurun. Baik Rasyid maupun Sugiyanto mengaku tidak pernah ada pembinaan bagi mereka dari pemerintah. Padahal, warga sangat membutuhkannya.

Produksi padi dayang rindu juga relatif lebih rendah dibandingkan dengan padi unggul lainnya. Dari 1 hektar tanaman padi, umumnya hanya dihasilkan sekitar 1,5 ton beras.

Menurut Rasyid, untuk menjual sisa beras tersebut bukanlah perkara sulit. Banyak pedagang beras yang datang ke desanya untuk membeli beras itu.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian Gatot Irianto mengatakan, varietas padi lokal di Indonesia jumlahnya ribuan karena hampir setiap daerah memiliki jenis padi unggul. Namun, karakter padi lokal itu biasanya sama, yaitu hanya dapat tumbuh pada ketinggian, iklim mikro, dan jenis tanah tertentu. Karena itu, bila ditanam di luar daerah asalnya, sering kali hasilnya tidak sebaik bila ditanam di daerah asalnya.

Padi-padi lokal yang khas itu sebenarnya dapat dibudidayakan secara massal. Namun, usia tanamnya harus dipendekkan dulu dengan cara mengawinkannya dengan varietas padi umur pendek yang rasanya juga enak.

Langkah ini sudah berhasil dilakukan Kementerian Pertanian, seperti pada padi aek sibundong asal Sumatera Utara. Jika selama ini usia tanamnya mencapai lima bulan, padi jenis itu berhasil dipendekkan menjadi 105 hari. Produksinya pun berhasil ditingkatkan dari 1,5 ton per hektar menjadi 6 ton per hektar. Setelah itu, varietas padi tersebut bisa diperdagangkan secara umum. (MZW/WAD/BOY)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau