Kakak Dulmatin Terperangah

Kompas.com - 10/03/2010, 16:18 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Kakak kandung Dulmatin, Azzam Baabud, melihat jumpa pers Mabes Polri soal identitas tiga jenazah yang tewas dalam penggerebekan teroris di Pamulang melalui tayangan langsung televisi dari dalam studio sebuah televisi swasta di Pulogadung, Jakarta Timur, Rabu (10/3/2010).

Awalnya, Azzam tampak serius menyimak setiap kalimat yang dinyatakan Kepala Polri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri. Begitupun saat pihak Mabes Polri memajang tiga foto yang diberi kode jenazah 001, 002, dan 003.

Foto jenazah berkode 001 diduga adalah Dulmatin. Matanya tak berkedip saat melihat foto berkode 001 dengan ciri tahi lalat di bawah bibir sebelah kiri. Kegelisahannya terlihat saat ia sesekali menggigit kelingking kanannya.

Saat Kapolri mengatakan bahwa foto berkode 001 sudah cocok atau match 100 persen dengan DNA ibu kandungnya, ia justru terlihat tersenyum. Namun, beberapa menit kemudian ia terlihat gusar kembali. Bahkan, saat Kapolri memastikan bahwa foto jenazah berkode 001 adalah Dulmatin, ia terlihat terperangah.

Sesaat itu pula, Azzam mencopot dan memasang kembali kacamatanya. Matanya pun terlihat berkaca-kaca mengetahui Polri menyatakan bahwa adik kandungnya adalah salah satu korban tewas dalam penggerebekan di Pamulang.

Dulmatin mempunyai banyak nama samaran, yakni Amar Usmanan, Joko Pitoyo, Joko Pitono, Abdul Matin, Pitono, Muktarmar, Djoko, dan Novar. Terakhir, ia menggunakan nama Yahya Ibrahim.

Dulmatin merupakan putra Pemalang yang lahir di Desa Petarukan, Kecamatan Petarukan, Pemalang, 6 Juni 1970.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau