JAKARTA, KOMPAS.com — Kakak kandung Dulmatin, Azzam Baabud, melihat jumpa pers Mabes Polri soal identitas tiga jenazah yang tewas dalam penggerebekan teroris di Pamulang melalui tayangan langsung televisi dari dalam studio sebuah televisi swasta di Pulogadung, Jakarta Timur, Rabu (10/3/2010).
Awalnya, Azzam tampak serius menyimak setiap kalimat yang dinyatakan Kepala Polri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri. Begitupun saat pihak Mabes Polri memajang tiga foto yang diberi kode jenazah 001, 002, dan 003.
Foto jenazah berkode 001 diduga adalah Dulmatin. Matanya tak berkedip saat melihat foto berkode 001 dengan ciri tahi lalat di bawah bibir sebelah kiri. Kegelisahannya terlihat saat ia sesekali menggigit kelingking kanannya.
Saat Kapolri mengatakan bahwa foto berkode 001 sudah cocok atau match 100 persen dengan DNA ibu kandungnya, ia justru terlihat tersenyum. Namun, beberapa menit kemudian ia terlihat gusar kembali. Bahkan, saat Kapolri memastikan bahwa foto jenazah berkode 001 adalah Dulmatin, ia terlihat terperangah.
Sesaat itu pula, Azzam mencopot dan memasang kembali kacamatanya. Matanya pun terlihat berkaca-kaca mengetahui Polri menyatakan bahwa adik kandungnya adalah salah satu korban tewas dalam penggerebekan di Pamulang.
Dulmatin mempunyai banyak nama samaran, yakni Amar Usmanan, Joko Pitoyo, Joko Pitono, Abdul Matin, Pitono, Muktarmar, Djoko, dan Novar. Terakhir, ia menggunakan nama Yahya Ibrahim.
Dulmatin merupakan putra Pemalang yang lahir di Desa Petarukan, Kecamatan Petarukan, Pemalang, 6 Juni 1970.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang