JAKARTA, KOMPAS.com — Meski belum sepenuhnya yakin bahwa salah satu jenazah yang tewas dalam penggerebekan di Pamulang adalah Yahya Ibrahim alias Dulmatin, pihak keluarga menyatakan permintaan maaf atas segala perbuatan yang diakibatkan Dulmatin.
"Saya atas nama keluarga, sedalam-dalamnya, minta maaf kepada seluruhnya," kata kakak Dulmatin, Azzam Baabud, Rabu (10/3/2010) di Jakarta.
Ia juga sekaligus menyatakan bahwa Dulmatin bukanlah teroris. "Tetap keyakinan keluarga kami bahwa dia bukanlah teroris," tambahnya.
Sepengetahuan Azzam, sejak kecil Dulmatin tidak mempunyai gelagat menjadi sosok sebagai seorang teroris. Namun, Azzam tak tahu, apakah Dulmatin mendapatkan ajaran soal terorisme saat ia pergi merantau seusai lulus SMA. "Yang namanya Dulmatin seingat saya dari kecil belum pernah ikutin ajaran terorisme," katanya.
"(Sosok Dulmatin) seperti biasa, seperti layaknya remaja biasa. Tidak dengan pakaian aneh-aneh," tambahnya.
Anak pertama dari enam bersaudara ini juga mengungkapkan bahwa keluarga sebenarnya tidak mengenal nama Dulmatin karena nama asli Dulmatin di keluarga adalah Joko Pitoyo alias Asmar Usman. "Kami di keluarga tidak kenal yang namanya Dulmatin," ungkapnya.
Belum yakin
Keraguan kakak pertama Dulmatin atas pernyataan dan foto jenzah yang dipublikasikan Mabes Polri muncul karena dia belum melihat langsung jenazah tersebut. "Sepintas agak mirip. Dari kening mungkin agak mancung. Bentuk mulut kurang. (Namun) dagu iya. Saya yakin karena saya kan bersama dia dari kecil," ujarnya.
"Cuma kalau dilihat dari visualisasi, memang belum pas dengan gambaran. Mungkin karena secara teknis, identifikasi, mungkin itu betul," katanya.
Namun, dilihat dari ciri wajahnya, Azzam menyatakan bahwa sosok tersebut belum mirip dengan adiknya. "Bentuk wajah belum mirip," ungkapnya.
"Dari kecil saya ingatnya ada sebuah tahi lalat di bawah bibir sebelah kiri. Tapi, dari foto itu, matanya lebih kecil," elak Azzam.
Oleh karena itu, Azzam berharap diperbolehkan segera melihat jenazah yang disebut sebagai Dulmatin itu. "Berserah diri saja. Kalau belum lihat sendiri jenazah itu, belum yakin," ujarnya.
Dulmatin mempunyai banyak nama samaran, yakni Amar Usmanan, Joko Pitoyo, Joko Pitono, Abdul Matin, Pitono, Muktarmar, Djoko, dan Novar. Terakhir, ia menggunkan nama Yahya Ismail.
Dulmatin merupakan putra Pemalang yang lahir di Desa Petarukan, Kecamatan Petarukan, Pemalang, 6 Juni 1970. Orang yang disebut terlibat dalam bom Bali itu terbujur kaku seusai tim Densus 88 menembaknya di rental komputer Multi Plus, Pamulang, Tengerang, Selasa (9/3/2010).
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang