Keluarga Dulmatin Minta Maaf

Kompas.com - 10/03/2010, 20:47 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Meski belum sepenuhnya yakin bahwa salah satu jenazah yang tewas dalam penggerebekan di Pamulang adalah Yahya Ibrahim alias Dulmatin, pihak keluarga menyatakan permintaan maaf atas segala perbuatan yang diakibatkan Dulmatin.

"Saya atas nama keluarga, sedalam-dalamnya, minta maaf kepada seluruhnya," kata kakak Dulmatin, Azzam Baabud, Rabu (10/3/2010) di Jakarta.

Ia juga sekaligus menyatakan bahwa Dulmatin bukanlah teroris. "Tetap keyakinan keluarga kami bahwa dia bukanlah teroris," tambahnya.

Sepengetahuan Azzam, sejak kecil Dulmatin tidak mempunyai gelagat menjadi sosok sebagai seorang teroris. Namun, Azzam tak tahu, apakah Dulmatin mendapatkan ajaran soal terorisme saat ia pergi merantau seusai lulus SMA. "Yang namanya Dulmatin seingat saya dari kecil belum pernah ikutin ajaran terorisme," katanya.

"(Sosok Dulmatin) seperti biasa, seperti layaknya remaja biasa. Tidak dengan pakaian aneh-aneh," tambahnya.

Anak pertama dari enam bersaudara ini juga mengungkapkan bahwa keluarga sebenarnya tidak mengenal nama Dulmatin karena nama asli Dulmatin di keluarga adalah Joko Pitoyo alias Asmar Usman. "Kami di keluarga tidak kenal yang namanya Dulmatin," ungkapnya.

Belum yakin

Keraguan kakak pertama Dulmatin atas pernyataan dan foto jenzah yang dipublikasikan Mabes Polri muncul karena dia belum melihat langsung jenazah tersebut. "Sepintas agak mirip. Dari kening mungkin agak mancung. Bentuk mulut kurang. (Namun) dagu iya. Saya yakin karena saya kan bersama dia dari kecil," ujarnya.

"Cuma kalau dilihat dari visualisasi, memang belum pas dengan gambaran. Mungkin karena secara teknis, identifikasi, mungkin itu betul," katanya.

Namun, dilihat dari ciri wajahnya, Azzam menyatakan bahwa sosok tersebut belum mirip dengan adiknya. "Bentuk wajah belum mirip," ungkapnya.

"Dari kecil saya ingatnya ada sebuah tahi lalat di bawah bibir sebelah kiri. Tapi, dari foto itu, matanya lebih kecil," elak Azzam.

Oleh karena itu, Azzam berharap diperbolehkan segera melihat jenazah yang disebut sebagai Dulmatin itu. "Berserah diri saja. Kalau belum lihat sendiri jenazah itu, belum yakin," ujarnya.

Dulmatin mempunyai banyak nama samaran, yakni Amar Usmanan, Joko Pitoyo, Joko Pitono, Abdul Matin, Pitono, Muktarmar, Djoko, dan Novar. Terakhir, ia menggunkan nama Yahya Ismail.

Dulmatin merupakan putra Pemalang yang lahir di Desa Petarukan, Kecamatan Petarukan, Pemalang, 6 Juni 1970. Orang yang disebut terlibat dalam bom Bali itu terbujur kaku seusai tim Densus 88 menembaknya di rental komputer Multi Plus, Pamulang, Tengerang, Selasa (9/3/2010).

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau