Masalah Kemanusiaan di Sudan Selatan Makin Memburuk

Kompas.com - 11/03/2010, 18:46 WIB

JUBA, KOMPAS.com — Sudan selatan, kawasan semi-otonomi yang dilanda konflik antarsuku dan kelaparan, akan menghadapi situasi kemanusiaan yang memburuk pada tahun ini. Demikian menurut laporan badan kemanusiaan Norwegia, Kamis (11/3/2010).

Setelah beberapa kali ditunda, Sudan akan menyelenggarakan pemilu multipartai pertamanya dalam 24 tahun terakhir. Pemilu yang akan diadakan pada April mendatang ini merupakan salah satu unsur penting dari perjanjian perdamaian 2005. Perjanjian tersebut mengakhiri konflik lebih dari 20 tahun antara wilayah utara dan selatan.

Pada 9 Januari 2011, hanya beberapa bulan setelah pemilu itu, wilayah selatan menurut rencana akan menyelenggarakan referendum mengenai kemerdekaan. Menurut banyak pengamat, referendum ini diperkirakan akan menghasilkan sebuah negara baru Afrika.

Dewan Pengungsi Norwegia (NRC) mengatakan bahwa masyarakat internasional harus menjamin bahwa perjanjian perdamaian utara-selatan berhasil dilaksanakan.

Selain itu, masyarakat internasional harus membantu memperkuat usaha Pemerintah Sudan Selatan untuk mencegah pertumpahan darah kembali jika wilayah selatan menjadi sebuah negara merdeka.

"Pengungsian dan kebutuhan terhadap bantuan kemanusiaan akan terus meningkat tahun 2010 karena konflik di wilayah selatan," kata laporan itu.

"Kemampuan tanggap darurat harus segera ditingkatkan, baik dalam konflik-konflik di wilayah selatan, karena keamanan pangan yang memburuk, maupun karena adanya daerah yang memiliki sejarah sangat rawan konflik antara wilayah utara dan selatan," katanya.

Kemajuan dalam melaksanakan perjanjian tahun 2005 dinilai lambat. Pihak utara dituduh tidak memiliki kemauan politik untuk melaksanakan ketentuan-ketentuannya, sementara wilayah selatan tidak mampu melaksanakannya.

Tidak adanya persetujuan mengenai masalah-masalah penting dapat membawa pada pecahnya kembali konflik bersenjata. Masalah-masalah itu mencakup keputusan garis demarkasi yang tertunda lama antara perbatasan utara dan selatan serta bagaimana hasil pendapatan minyak akan dibagi setelah referendum.

Dewan pengungsi itu mengatakan, sementara mereka berusaha membantu pihak utara dan selatan Sudan untuk mengatasi hambatan-hambatan pada perjanjian perdamaian, masyarakat internasional harus menangani konflik suku selatan.

Para pengamat mengatakan, sekitar 2.500 orang tewas tahun lalu dalam pertempuran di selatan di antara daerah-daerah dari kelompok-kelompok etnik yang berbeda. Perseteruan itu sudah berlangsung sejak lama dan diperburuk oleh perang yang menyebabkan banyak masyarakat selatan mengangkat senjata.

Walaupun sekitar 187.000 orang mengungsi pada tahun 2008, lebih dari 390.000 orang meninggalkan rumah-rumah mereka tahun lalu. Sebagian besar karena perang antarsuku yang meningkat akibat kekurangan pangan dan pengabaian politik terhadap kelompok-kelompok etnik minoritas.

Laporan itu mendesak para pendonor untuk membantu memperkuat pemerintah semiotonomi Sudan selatan, yang tidak mampu menyelesaikan konflik-konflik di antara kelompok-kelompok etnik.

NRC mengatakan, 80 persen dari pelayanan kesehatan dan pendidikan diberikan oleh badan-badan bantuan internasional, yang tidak dapat dilanjutkan. "Kelemahan pemerintah dapat membuat ketegangan di wilayah yang tidak stabil itu meningkat," tambahnya.

Sekitar dua juta orang tewas dan empat juta orang mengungsi akibat perang utara-selatan. Hal ini merupakan salah satu dari sekian kejadian terburuk di Afrika.

Perdamaian antara utara dan selatan tampaknya menjadi hal penting bagi pembangunan perdamaian dan ekonomi di Afrika timur itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau