Korban Rabies Bertambah

Kompas.com - 12/03/2010, 03:25 WIB

Medan, Kompas - Korban meninggal akibat gigitan anjing gila di Kota Gunungsitoli bertambah satu lagi. Kali ini menimpa Risnawati Zebua, warga Gunungsitoli. Ia masuk ke RSUD Gunungsitoli untuk mendapat perawatan pada hari Selasa (9/3) dan meninggal pada hari Rabu (10/3).

Dengan kematian Risnawati, jumlah korban meninggal akibat rabies di Gunungsitoli, sesuai keterangan resmi pemerintah, menjadi enam orang. Korban sebelumnya ialah Kepala Dinas Kesehatan Nias Utara Christian Zai (40) yang meninggal karena gigitan anjing peliharaannya.

Anggota Staf Seksi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang (P3B2) Dinas Kesehatan Sumut, Junita Pandia, mengatakan, selama bulan Januari hingga Maret ini, jumlah gigitan anjing yang dilaporkan di Pulau Nias mencapai 150 kasus. Sebanyak 78 gigitan di antaranya terjadi di Kota Gunungsitoli.

Sedangkan vaksin antirabies (VAR) Verorab bantuan Departemen Kesehatan yang dikirim ke Pulau Nias hanya berjumlah 75 kuur.

”Jumlah VAR menjadi tak seberapa dibandingakan dengan kasus gigitan yang sudah terjadi,” kata Junita. Apalagi 75 kuur itu harus dibagi ke lima kabupaten/ kota di Pulau Nias dan RSUD Gunungsitoli.

Kepala RSUD Gunungsitoli Yulianus Mendrofa mengatakan, stok VAR di RSUD saat ini kosong, sementara jumlah pasien digigit anjing yang datang ke UGD rumah sakit mencapai 110 orang. ”Akhirnya pasien membeli sendiri vaksin antirabies di apotek di Gunungsitoli seharga Rp 640.000 per paket,” tutur Yulianus.

Para perawat dan petugas rumah sakit juga merasa takut merawat pasien karena mereka belum divaksin. ”Kami juga belum mempunyai ruang isolasi khusus untuk pasien rabies. Pasien masih dicampur dengan pasien lain,” tutur Yulianus.

Menurut Yulianus, telah ada usulan dari DPRD Kota Gunungsitoli untuk menganggarkan dana Rp 600 juta guna membeli vaksin. Selain untuk memvaksin pasien, dana itu juga untuk vaksin bagi petugas rumah sakit.

Yulianus mengatakan, pasien terakhir yang ditangani RSUD Gunungsitoli dan meninggal adalah bocah laki-laki bermarga Zulu (12), warga Jalan Gomo, Gunungsitoli. Namun, data belum masuk ke Dinas Kesehatan Sumut.

Ketua Dewan Kesehatan Rakyat Kabupaten Nias Onlyhu Ndraha yang dihubungi dari Medan mengatakan, banyak warga Nias juga mulai trauma ketika melihat anjing, seperti yang terjadi di Kecamatan Indanegawo. Menurut Onlyhu, saat warga melihat anjing, mereka beramai-ramai meringkus dan membunuh si anjing tanpa tahu apakah anjing terkena rabies atau belum.

”Warga mulai ketakutan, terutama di pedesaan karena informasi mengenai rabies belum mereka ketahui,” tutur Onlyhu. Sedangkan vaksinasi anjing secara massal sudah mulai dilakukan di Kota Gunungsitoli.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Kesehatan Sumut Mulkan Harahap mengatakan, pihaknya sudah melakukan pelatihan singkat bagi vaksinator di Gunungsitoli bagi kader dari Nias, Nias Selatan, Nias Utara, Nias Barat, dan Kota Gunungsitoli. Jumlah vaksinator yang dilatih 20-30 orang.

Dinas Peternakan Sumut menyatakan, telah mengirimkan 18.500 VAR untuk binatang. Dinas Peternakan Sumut sendiri masih memiliki 50.000 stok VAR.

Hari ini rapat penanganan rabies di Pulau Nias yang dikoordinasi oleh Kantor Gubernur Sumut dilaksanakan di Medan. Sebelum kasus kematian akibat rabies muncul, Pulau Nias dinyatakan bebas rabies. Dengan munculnya kasus rabies di Pulau Nias, tak ada wilayah di Sumut yang bebas rabies.

”Kami sudah memberikan informasi di mana pemerintah kabupaten bisa membeli sendiri VAR secara bebas. Harga satu kuur VAR berkisar Rp 500.000,” tutur Junita. Dinas Kesehatan Provinsi Sumut sendiri hanya memiliki stok beberapa kuur VAR untuk cadangan kasus di daerah lain. (WSI)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau