MATARAM, KOMPAS.com — Umat Hindu di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, akan menggelar pawai ogoh-ogoh atau boneka besar berwajah menyeramkan sebagai simbol keburukan dalam rangkaian menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1932.
Ketua Panitia Peringatan Hari Besar Hindu (PHBH) Kota Mataram I Gede Aryadi di Mataram, Jumat, mengatakan, pawai ogoh-ogoh yang rencananya diikuti sekitar 150 hingga 160 peserta itu akan dilaksanakan Senin (15/3/2010), kemudian dilanjutkan dengan upacara Tawur Kesanga.
"Menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1932 seluruh banjar di Kota Mataram sudah siap melaksanakan pawai ogoh-ogoh, acara mengarak boneka besar berbentuk makhluk menyeramkan itu akan diikuti sekitar 150-160 peserta dari seluruh banjar," ujarnya.
Ia mengatakan, pembuatan ogoh-ogoh yang membutuhkan biaya jutaan rupiah itu sebagian besar dilakukan secara swadaya oleh masyarakat, demikian juga proses pembuatannya dilakukan bersama.
Dalam kepercayaan Hindu Dharma, kata dia, ogoh-ogoh adalah karya seni patung dalam kebudayaan Bali yang menggambarkan kepribadian bhuta kala yang merepresentasikan kekuatan (bhu) alam semesta dan waktu (kala) yang tak terukur dan tak terbantahkan.
"Pawai ogoh-ogoh merupakan ritual agama. Karena itu, kami mengharapkan tidak dikaitkan dengan hal-hal yang berbau politik, terutama pelaksanaan pemilu kepala daerah," ujarnya.
Ia mengatakan, pada Selasa (16/3/2010) umat Hindu di Kota Mataram melaksanakan acara puncak ritual Nyepi, yakni tapa brata penyepian dengan empat pantangan.
Tapa brata penyepian itu meliputi amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak melakukan kegiatan), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mengumbar hawa nafsu, tidak mengadakan hiburan/bersenang-senang).
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang