JAKARTA, KOMPAS.com — Pembajakan oleh teroris menimpa sebuah kapal supertanker MT Catur Samudra yang tengah berlabuh di Teluk Jakarta. Kapal berbendera Arab Saudi berisi 30 ABK yang kesemuannya berasal dari Indonesia tersebut mengangkut bahan bakar minyak jenis solar. Teroris yang berjumlah 8 orang bersenjata api berhasil menyandera kapal dan ABK, bahkan beberapa ABK mengalami luka-luka akibat perlawanan yang sempat mereka berikan.
Namun, di tengah kepanikan dan keputusasaan, kapten kapal secara sembunyi-sembunyi berhasil memencet tombol ship security alert system yang umumnya ada di kapal-kapal niaga lainnya. Tombol ini secara otomatis mengirimkan pesan mayday atau tanda bahaya ke syahbandar yang berada di Jakarta.
Berdasarkan informasi tersebut, KRI Cut Nyak Dien 375 mulai digerakkan dari pangkalannya di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. KRI tersebut dipimpin oleh Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat (Pangarmabar) Laksamana Muda TNI Marsetio yang secara langsung turun tangan memberikan komando untuk segera mengunci pergerakan kapal tanker yang telah dikuasai oleh kelompok teroris.
Kontak radio akhirnya terjadi. Teroris melayangkan beberapa tuntutan kepada Pemerintah Indonesia. Mereka meminta rekan-rekannya dibebaskan dari rumah tahanan yang ada di seluruh Indonesia. "Kami meminta kepada pemerintah segera melepas anggota kami dari semua rutan yang ada di Indonesia," kata seorang teroris yang kelihatannya memimpin pembajakan ini.
"Kalau tidak, saya bunuh semua sandera yang ada di sini dan saya ledakkan seluruh isi kapalnya," tambahnya dengan rentetan senjata ke udara.
Mendengar ancaman yang serius, proses negosiasi akhirnya diambil alih oleh anggota Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI yang memang ahli dalam kasus seperti ini. Di sudut lain, Pangarmabar langsung membentuk tim khusus. Berbagai skenario pembebasan sandera digelar dengan seksama. Aksi yang cepat, tangkas, dan tanpa risiko menjadi tujuan utama. Dua tim ship boarding, satu tim fastrooping, dan satu tim Exploisive Ordonance Disposal (EOD) dari kesatuan Komando Pasukan Katak (Kopaska) terbentuk.
Dengan menggunakan tiga sea rider dan satu helikopter Bell, mereka bergerak senyap mendekati target sasaran. Dengan dua media penyerangan, dari laut dan udara, personel Kopaska dengan cekatan mengusai lambung kapal. Rentetan tembakan sporadis teroris menyambut heli pasukan yang terbang rendah. Tanpa mereka sadari, personel Kopaska yang menggunakan sea rider telah merangsek maju hingga face to face dengan teroris. Baku tembak pun tak terhindarkan. Suaranya terdengar hingga radius 1 km. Tak sampai 30 menit, Kopaska akhirnya berhasil melumpuhkan kedelapan teroris tersebut. Dua teroris ditembak. Satu lainnya kabur dengan cara melompat ke laut, tetapi bisa ditangkap kembali oleh pasukan dengan menggunakan teknik water jump dengan helikopter. Adapun sisanya menyerah.
Dengan cekatan, personel Kopaska menggiring mereka bersama sandera ke lambung kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada pusat komando. Tak lama, pasukan Polairud dari Polri menggunakan dua kapal ikut merapat. Berbagai pemeriksaan dan penyisiran lokasi dilakukan untuk benar-benar memberikan tanda aman bagi kapal tanker tersebut. Akhirnya, proses terhadap semua tersangka teroris dan sandera diambil alih oleh pihak Polri untuk penindakan selanjutnya.
Drama pembajakan dan penanggulangan aksi teror ini terpampang dalam latihan gabungan TNI dan Polri di Teluk Jakarta. Berbagai skenario penyergapan dan pembebasan sandera dilakukan oleh kedua institusi ini untuk menanggulangi aksi terorisme yang kian hari kian marak.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang