Temu publik

Obama Akan Berpidato di PRJ Kemayoran

Kompas.com - 19/03/2010, 04:33 WIB

Jakarta, Kompas - Presiden Amerika Serikat Barack Obama yang semula direncanakan akan bertemu publik di Universitas Indonesia atau Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah tampaknya lebih memilih tempat yang lebih dekat di pusat kota.

Oleh sebab itu, Obama memilih arena Pekan Raya Jakarta di Kemayoran, Jakarta Pusat. Dijadwalkan, pidato Presiden Obama dilakukan sehari setelah dia tiba di Indonesia, yakni Rabu (24/3) siang.

Rektor Universitas Indonesia (UI) Gumilar Rusliwa Soemantri menyatakan hal itu saat ditanya pers seusai menghadiri pembukaan seminar internasional tentang perubahan iklim di Istana Wapres, Jakarta, Kamis (18/3).

”Tidak di Kampus UI di Depok, Jawa Barat, akan tetapi di Kemayoran. Kami sih senang-senang saja jika UI ditunjuk. Akan tetapi, mungkin terlalu jauh ya di Depok sehingga dipilih di Kemayoran yang lebih luas,” ucap Gumilar.

Menurut Gumilar, ia senang UI dipilih sebagai salah satu penyelenggara bersama Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), dan Kedutaan Besar AS.

Tanpa tanya jawab

Mengenai tema pidato yang akan disampaikan Obama, Gumilar mengaku tidak meminta topik khusus. ”Tema dari beliau sendiri. Acara ini akan menjadi hal yang positif untuk mempromosikan Indonesia dan memperkuat kerja sama dan persahabatan kedua negara antara Indonesia dan AS sehingga akan semakin memperdalam dan memahami bagaimana sebuah peradaban yang lebih maju, dinamis, dan sustainable,” papar Gumilar.

Tentang adanya kelompok yang menolak kedatangan Obama, Gumilar menilai hal itu tidak apa-apa karena ini negara demokrasi. ”Kita harus hormati perbedaan pendapat itu. Itu tidak perlu dibawa dan dijadikan masalah. Akan tetapi, yang setuju kan lebih banyak,” demikian Gumilar.

Secara terpisah, Staf Khusus Presiden Bidang Luar Negeri Dino Patti Djalal, saat dikonfirmasi, membenarkan penyelenggaraan pidato Presiden Obama di kawasan Kemayoran. Menurut Dino, kapasitas ruangan yang akan dipakai bisa mencapai ribuan orang, yang berasal dari berbagai kalangan pebisnis, akademisi, politisi, mahasiswa, dan lainnya.

”Dalam pidato itu tidak ada sesi tanya jawab. Presiden Obama berpidato seperti saat berpidato di Kairo,” kata Dino.

Penolakan Obama

Di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, aksi penolakan masih terjadi meskipun tak sebanyak sebelumnya. Sekitar 20 orang anggota Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) mendatangi Gedung DPRD Provinsi Kalsel di Banjarmasin, menyampaikan petisi penolakan kedatangan Presiden AS Barack Obama ke Indonesia.

Selain petisi yang berisi empat poin pernyataan, HTI juga menyerahkan bukti tanda tangan dukungan terhadap aksi penolakan itu, yang berhasil dikumpulkan dari masyarakat selama beberapa hari terakhir, termasuk saat melakukan unjuk rasa Minggu kemarin di sekitar Masjid Raya Sabilan Muqtadin, Banjarmasin.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah II HTI Kota Banjarmasin Mukhlis Hariadi mengatakan, pihaknya menyerahkan petisi yang berisi dukungan dari para tokoh ulama di 12 kabupaten di Kalsel. Mereka bukan hanya berasal dari HTI, tapi juga dari luar HTI.

”Para ulama menolak kedatangan Obama dengan alasan ia presiden dari negara penjajah. Masyarakat Kalsel tidak setuju dengan penjajahan. Kami minta agar Dewan menyampaikan hal itu ke pusat,” ujarnya. (har/WER/ich/egi)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau