TBC, Indonesia Tetap Urutan Ke-3

Kompas.com - 20/03/2010, 03:27 WIB

Jakarta, Kompas - Tuberkulosis tetap menjadi masalah besar kesehatan masyarakat. Indonesia masih di peringkat ketiga sebagai negara dengan kasus tuberkulosis terbanyak. Belakangan, masalah tuberkulosis diperberat dengan infeksi HIV/AIDS yang berkembang cepat.

Selain itu, juga muncul kasus TB-MDR (multi-drugs resistant—kebal terhadap bermacam obat). Hal itu dikatakan Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung (PPML) Kementerian Kesehatan Iwan M Muljono pada acara brifing dengan pers menyambut Hari Tuberkulosis Sedunia, Jumat (19/3). Hari Tuberkulosis (TB) diperingati setiap tanggal 24 Maret.

Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan kuman Mycobacterium tuberkulosis. Penyakit tersebut ditularkan lewat udara melalui percikan dahak pengidap TB. Sebagian besar menyerang paru, tetapi bisa juga organ tubuh lain.

Pengidap tuberkulosis terbanyak berada di negara berkembang dan berpenduduk padat. Pengidap tuberkulosis terbanyak berada di India, China, dan Indonesia.

Di Indonesia, setiap tahun ditemukan sekitar setengah juta kasus baru TB. Separuh di antaranya adalah kasus TB menular, menyebabkan sekitar 100.000 kematian. Penyakit TB masih penyebab kematian terbanyak penyakit infeksi.

Tuberkulosis juga menjadi ancaman bagi produktivitas masyarakat—sekitar 70 persen pengidap ada dalam usia produktif. Temuan kasus terbanyak, yaitu di Sulawesi Utara, DKI Jakarta, dan Banten.

Beban makin berat

Pengendalian TB, menurut Iwan, semakin berat dengan peningkatan kasus HIV/AIDS dan munculnya resistensi terhadap beberapa obat lini pertama (MDR-TB). Infeksi HIV yang melemahkan kekebalan tubuh menyebabkan orang dengan HIV/ AIDS rentan terkena TB. Orang yang terinfeksi HIV berisiko sakit TB sebesar 60 persen.

Mereka yang tanpa HIV berisiko sekitar 10 persen. Tantangan lain ialah bermunculannya kasus MDR-TB atau TB akibat

kuman yang telah kebal terhadap bermacam obat anti-TB. Pengobatan MDR-TB dengan obat lini kedua jauh lebih mahal dan sulit.

Kepala Subdit TB Kementerian Kesehatan Dyah Erti Mustikawati menambahkan, TB menjadi lebih sulit dikendalikan lantaran penyakit tersebut mempunyai dimensi sosial dan ekonomi. ”TB terkait dengan kemiskinan dan kepadatan penduduk. Di daerah yang padat penduduk dan miskin biasanya permukiman rapat dan tidak memenuhi syarat rumah sehat. Kesadaran masyarakat akan kesehatan dan lingkungan juga rendah,” ujarnya.

Ketua Perkumpulan Pasien dan Masyarakat Peduli TB Indonesia atau Pamali TB Indonesia Retnowati mengatakan, tuberkulosis juga terkait dengan perilaku. ”Batuk tanpa menutupi mulut, ketidakpatuhan minum obat, dan kendala mencapai fasilitas kesehatan ikut memengaruhi,” ujarnya.

Iwan mengatakan, Indonesia menggunakan strategi DOTS (directly observed treatment shortcourse) dalam mengatasi TB. DOTS terdiri dari lima komponen, yaitu komitmen pemerintah mempertahankan kontrol TB, deteksi kasus, pengobatan teratur 6-8 bulan, ketersediaan rutin obat TB, serta sistem laporan untuk pengawasan perkembangan pengobatan dan program. Hari TB Sedunia diperingati dengan kegiatan advokasi, komunikasi, dan mobilisasi sosial, melibatkan semua pihak untuk mendukung komitmen penanggulangan TB. (INE)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau