Kuartet Kutuk Tindakan Israel

Kompas.com - 20/03/2010, 03:40 WIB

Kairo, Kompas - Dalam pertemuan kuartet perdamaian, Jumat (19/3) di Moskwa, Rusia mengutuk pengumuman rencana pembangunan 1.600 unit rumah baru Yahudi di Jerusalem Timur. Pengumuman itu dilakukan Israel justru saat Wakil Presiden AS Joe Biden sedang berada di Israel.

Pada 9 Maret lalu, Biden mengunjungi Israel dengan tujuan mendorong Israel-Palestina berunding kembali. Namun, saat Biden berada di Israel, pemerintahan Israel di bawah Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu mengumumkan rencana pembangunan perumahan di Tepi Barat.

Hal ini merupakan penolakan implisit terhadap keinginan AS, yang justru meminta Israel menunda pembangunan permukiman. Bagi Palestina, kelanjutan pembangunan permukiman Yahudi di Tepi Barat bukan sinyal baik bagi keseriusan perdamaian.

Pernyataan kuartet perdamaian (AS, Rusia, PBB, dan Uni Eropa) dibacakan Sekjen PBB Ban Ki-moon. Kuartet meminta Israel menghentikan semua aktivitas pembangunan permukiman Yahudi di wilayah Palestina.

Kuartet itu pernah menyusun peace road map (peta jalan menuju damai). Namun, peta itu tak pernah ditapaki. Kuartet juga menyerukan agar Israel-Palestina segera memulai lagi perundingan damai untuk mencapai kesepakatan atas isu-isu yang bisa mengantarkan ke arah berdirinya negara Palestina dalam kurun waktu dua tahun.

Kuartet perdamaian menyampaikan pernyataan keras itu meskipun beberapa jam sebelumnya (Kamis malam lalu) Netanyahu melobi AS dengan menelepon Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton.

Netanyahu mengusulkan Hillary untuk membangun rasa saling percaya sebagai jalan keluar dari krisis hubungan AS-Israel, yang dipicu dengan pelecehan terhadap Biden. Di antaranya adalah Israel bersedia melakukan sejumlah langkah yang menunjukkan niat baik kepada Palestina di Tepi Barat. Namun, Netayahu tidak menyebut bentuk konkret dari niat baik tersebut.

Netanyahu dan Hillary juga sepakat bertemu di Washington DC di sela kongres kelompok lobi Yahudi di AS (AIPAC). Sebaliknya, Hillary menyampaikan kepada Netanyahu bahwa utusan khusus AS, George Mitchell, akan mengunjungi Israel hari Minggu (21/3) untuk menggalang perundingan tidak langsung Israel-Palestina.

Kunjungan Mitchell ke Israel, sedianya pada hari Senin lalu, ditunda menyusul krisis hubungan AS-Israel. Mitchell dijadwalkan bertemu Netanyahu hari Minggu sebelum Netanyahu berangkat ke AS.

Tunda pembangunan

Harian Israel Haaretz mengutip Dubes Israel untuk AS Michael Oren mengungkapkan, Israel setuju menunda rencana pembangunan 1.600 unit rumah baru di Jerusalem Timur.

Oren mengungkapkan, Pemerintah Israel menanggapi serius tuntutan Hillary dalam percakapan telepon Jumat malam pekan lalu dengan Netanyahu, antara lain penghentian pembangunan permukiman. Netanyahu melakukan sidang kabinet menanggapi tuntutan AS itu.

Media massa Israel juga mengungkapkan, AS meminta Netanyahu memecat Menteri Dalam Negeri Israel Eli Yishai dari partai Ortodoks Shas. Eli Yishai dianggap bertanggung jawab atas pengumuman rencana membangun 1.600 unit rumah baru itu.

Netanyahu menolak permintaan itu. Pemecatan Eli Yishai bisa membuat pemerintahan koalisi Netanyahu ambruk. Partai Shas memiliki 11 kursi dari 120 kursi Knesset. Jika partai Shas mundur dari koalisi Netanyahu, dominasi koalisi Netanyahu di Knesset turun drastis, dari 74 kursi milik koalisi Netanyahu menjadi 63 kursi.

Meski hubungan AS-Israel mengalami krisis, popularitas Presiden AS Barack Obama di Israel cukup tinggi. Jajak pendapat yang diadakan harian Haaretz pekan ini menunjukkan, 48 persen responden meminta Pemerintah Israel membekukan pembangunan permukiman di Jerusalem sebagai jalan keluar dari krisis hubungan dengan AS.

Sekitar 41 persen responden menyatakan setuju Israel memenuhi tuntutan AS dengan menghentikan pembangunan permukiman Yahudi di Jerusalem hingga berakhir perundingan Israel-Palestina. (mth)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau