Kairo, Kompas -
Konferensi yang digalang Organisasi Konferensi Islam (OKI) itu dihadiri oleh delegasi dari sekitar 80 negara. Konferensi ini bertujuan menghimpun dana 2 miliar dollar AS untuk membangun kembali infrastruktur wilayah itu, seperti pengadaan air, jalan raya, perumahan, sarana pertanian, pendidikan dan kesehatan, serta industri.
PBB menyebut krisis Darfur sebagai krisis kemanusiaan terburuk saat ini. Sekitar 300.000 penduduk Darfur tewas dan sekitar satu juta mengungsi, lari dari aksi kekerasan di wilayah barat Sudan itu.
Konflik di Darfur yang miskin itu dimulai tahun 2003, menyusul kelompok bersenjata yang menyerang sejumlah fasilitas pemerintah dengan dalih pemerintah pusat di Khartoum mengabaikan wilayah itu dan berbuat tidak adil terhadap penduduk setempat dari etnis Afrika.
Menteri Luar Negeri Mesir Ahmed Aboul Gheit, dalam pembukaan konferensi, menyatakan, Sudan tidak akan stabil tanpa selesainya isu Darfur. ”Selesainya problem Darfur akan membantu menyelesaikan isu-isu kemanusiaan lainnya,” katanya.
Menurut Gheit, ada harapan menyelesaikan isu Darfur sesuai dengan perkembangan terakhir ini, seperti kunjungan Presiden Chad Idris Deby ke Sudan pada Februari lalu serta penandatanganan kesepakatan kerangka damai antara Pemerintah Sudan dan Gerakan Keadilan dan Kesetaraan (JEM) di Qatar akhir Februari lalu dan hari Kamis pekan lalu.
Sekjen OKI Ekmaluddin Ihsanoglu juga mengatakan, konferensi digelar ketika opsi perdamaian menjadi pilihan strategis bagi semua pihak yang bertikai. Dia mengungkapkan, kesepakatan kerangka damai di Qatar berdampak positif di lapangan. Para pengungsi dalam jumlah besar bersedia kembali secara sukarela ke desa-desa mereka. Namun, perkembangan positif itu tidak akan sempurna tanpa dukungan internasional untuk melaksanakan proyek pembangunan kembali wilayah Darfur.
Deputi Sekjen OKI untuk Urusan Kemanusiaan Ataa Manan Baheit mengungkapkan, telah dicanangkan konsep pendanaan secara komprehensif, meliputi mekanisme pemantauan penyaluran dan penggunaan dana pembangunan kembali Darfur.
Dalam buku petunjuk yang disebarkan OKI di arena konferensi tercatat rincian jenis dan biaya pembangunan kembali wilayah Darfur. Disebutkan, biaya pembangunan kembali sektor pertanian mencapai sekitar 196 juta dollar AS. Tujuannya adalah mengembalikan kemampuan produksi berbagai komoditas pertanian dan berswasembada dalam memenuhi kebutuhan dasar, seperti air, flora, dan fauna.
Disebutkan juga soal pengembangan sumber daya manusia di Darfur melalui program pembangunan sektor pendidikan dan kesehatan dengan biaya sekitar 193,5 juta dollar AS. Dalam konteks ini akan dibangun 40 pusat kesehatan masyarakat, 3 rumah sakit spesialis, 25 rumah sakit tingkat desa, membentuk satuan antimalaria, serta melatih 100 kader di bidang kesehatan.
Dalam hal ini pula akan dibangun 40 gedung sekolah dengan rincian: 24 gedung sekolah dasar , 8 gedung sekolah agama, 2 sekolah teknik, dan 6 pusat pelatihan. Juga dicanangkan segera dibangun 120 desa teladan dengan kapasitas 400 unit rumah di setiap desa dengan biaya 660 juta dollar AS.
Pembangunan desa baru itu bertujuan sebagai penampungan permanen bagi para pengungsi yang kembali di tiga wilayah Darfur yang dilengkapi fasilitas pendidikan, kesehatan, air, dan sarana sosial. Jumlah desa yang hancur akibat perang di Darfur sebanyak 1.930 desa.
Terdapat pula program pengurangan konflik berebut sumber alam di antara kaum Badui, dan mengembangkan cara hidup kaum Badui dan petani dengan memperbaiki kondisi lokal ke arah lebih modern. Biaya program ini 120 juta dollar AS.