Banjir Genangi Padi Siap Panen di Karawang

Kompas.com - 22/03/2010, 04:03 WIB

Karawang, Kompas - Belasan hektar padi siap panen di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, tergenang banjir akibat luapan Sungai Citarum sejak Sabtu pekan lalu. Petani mengaku rugi karena mutu dan harga gabah anjlok.

Banjir di sekitar aliran Sungai Citarum hingga Minggu (21/3) menggenangi sedikitnya 1.407 rumah yang tersebar di dua desa di Kabupaten Purwakarta serta sedikitnya delapan desa/kelurahan di Kabupaten Karawang. Lima desa di antaranya tergenang sejak Kamis pekan lalu.

Di Purwakarta, luapan Sungai Citarum dan Cikao menggenangi sedikitnya 300 rumah di Desa Cikaobandung, Kecamatan Jatiluhur, dan Desa Hegarmanah, Kecamatan Babakancikao, Kabupaten Purwakarta.

Sisanya, 1.107 rumah, terendam banjir yang melanda Desa Tegallega, Kecamatan Ciampel; Desa Teluk Jambe dan Wadas, Kecamatan Teluk Jambe Timur; serta Kelurahan Tanjungpura, Tanjungmekar, Adiarsa Barat, Karawang Kulon, dan Nagasari, Kecamatan Karawang Barat, Kabupaten Karawang.

Acih (38), petani Desa Curug, Kecamatan Klari, mengaku memanen padinya lebih awal, yakni umur 90 hari dari idealnya 110 hari karena khawatir padi makin rusak. Banjir menggenangi sekitar 3.000 meter persegi sawahnya setinggi 40 sentimeter.

Menurut Acih, sedikitnya 5 hektar padi siap panen di sekitar sawahnya terendam banjir. Sawah-sawah itu ada di kanan-kiri Sungai Citarum antara Bendung Curug dan Bendung Walahar.

Ipan (40), petani Desa Mulyasari, Kecamatan Ciampel, menuturkan, lebih dari 4 hektar padi di desanya terendam banjir. Kadar air gabah naik lebih dari 20 persen. Harganya anjlok menjadi Rp 2.000 per kilogram (kg) gabah kering panen (GKP).

Dengan produksi 5 ton per hektar, petani kehilangan potensi pendapatan sedikitnya Rp 2 juta per hektar sebab harga jual normal gabah di Karawang Rp 2.400- Rp 2.700 per kg GKP.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Karawang Nahrowi Muhamad Nur menyatakan, pihaknya masih mendata kerugian akibat banjir.

Pendekatan uang

Koordinator Kebencanaan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Barat Dadang Sudarja menyatakan, penanggulangan banjir di Jawa Barat masih menggunakan pendekatan uang. Pemerintah Provinsi Jawa Barat masih menganggap penanggulangan banjir hanya bisa diselesaikan bila didukung dana besar.

”Dari tahun ke tahun, pemerintah masih mengeluhkan butuh dana yang besar untuk menanggulangi masalah teknis banjir tahunan. Padahal, tidak semua tindakan penanggulangan banjir harus diselesaikan dengan kucuran uang melimpah,” kata Dadang dalam Peringatan Hari Air Sedunia di Bandung, Minggu.

Dadang menjelaskan sering kali kucuran dana besar dari anggaran negara atau donatur asing tidak jelas penggunaannya. Buktinya, banjir terus terjadi, bahkan meluas ke daerah lain. Contohnya, luapan Sungai Citarum yang sebelumnya hanya menggenangi Kabupaten Bandung kini membanjiri daerah hilir, seperti Bekasi, Karawang, Subang, dan Indramayu, dan Kabupaten Cirebon.

Dadang berharap, selain soal bantuan dana, pemerintah daerah juga memerhatikan pendekatan partisipatif masyarakat. Khususnya, menjaga lingkungan dari hulu sampai hilir sungai. Tujuannya, untuk mendapatkan penyelesaian integratif dan pembagian peran yang seimbang dalam penanganan banjir.

”Hal kecil yang justru menentukan keberhasilan penanganan banjir kurang mendapat perhatian. Hingga kini pemerintah daerah belum bisa menyadarkan masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai,” kata Dadang. (MKN/CHE)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau