KOLOMBO, KOMPAS.com — Kelompok-kelompok oposisi Sri Lanka, Selasa (23/3/2010), berdemonstrasi di Kolombo menuntut pembebasan mantan panglima militer Sarath Fonseka, yang berusaha menggeser presiden dalam pemilihan baru-baru ini.
Ratusan aktivis dari JVP, Front Pembebasan Rakyat, yang mendukung Fonseka gagal meraih kursi kepresidenan, meneriakkan slogan-slogan anti-pemerintah di luar stasiun kereta api utama.
"Senin, puluhan orang tak dikenal melemparkan batu pada satu stasiun televisi independen di Kolombo, dalam apa yang diduga bermotif politisasi serangan sebelum pemilihan parlemen bulan depan," kata pihak keamanan.
Aksi-aksi protes terakhir itu terjadi menjelang sidang pengadilan perang lainnya terhadap tahanan Fonseka, setelah dia kalah dalam pemilihan presiden oleh presiden yang sedang berkuasa, Mahinda Rajapakse.
Fonseka, yang memimpin militer mencapai kemenangan atas pemberontak Macan Tamil tahun lalu, pecah kongsi dengan Rajapakse dan kini menjadi dua tokoh yang bermusuhan tajam di bidang politik.
Pengadilan perang bersidang 6 April mendatang, dua hari menjelang pemilihan parlemen, di mana Fonseka menjadi salah satu kandidat dari Aliansi Demokrasi Nasional, partai yang mendukung JVP.
Fonseka memasuki dunia politik setelah keluar dari militer pada November, enam bulan setelah pemberontak separatis Macan Tamil pada akhirnya berhasil ditumpas, setelah puluhan tahun menumpahkan darah antaretnis di pulau itu.
Ketika dia mundur dari militer, Fonseka mengatakan bahwa Rajapakse mencurigainya merencanakan kudeta.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang