Pelatnas SEA Games 1 April

Kompas.com - 24/03/2010, 03:32 WIB

Jakarta, Kompas - Pemusatan pelatihan SEA Games 2011 akan dimulai 1 April 2010 menyusul surat keputusan yang dikeluarkan KONI. Jumlah atlet di pelatihan adalah dua kali lipat dari atlet yang tersaring untuk berlaga di SEA Games. Semua upaya ini bermuara pada pencapaian target juara umum.

Demikian hal yang menonjol dalam pertemuan antara pengurus KONI dan perwakilan 35 induk organisasi olahraga (PB), Senin (22/3) di Jakarta. Sebagian besar PB sudah menyerahkan daftar nama atlet yang masuk pelatihan kemarin.

”Akan dipersiapkan 200 persen atlet, termasuk cabang-cabang tak terukur. 100 persen adalah atlet usia muda yang satu tahun ke depan mampu berprestasi,” tutur Wakil Ketua Umum I KONI Pusat Hendardji Soepandji. Adapun 100 persen yang lain, lanjut Hendardji, adalah atlet senior dan atlet berprestasi dengan usia relatif muda.

Mengapa 200 persen? ”Tahap awal tak mungkin membatasi jumlah. Siapa tahu atlet yunior ada yang melampaui seniornya,” ujar Hendardji.

”SK pelatnas keluar 1 April ini, dan kami akan membuat kesepakatan dengan Kemenpora untuk pelaksanaan latihan. Kalau bisa, langsung begitu SK keluar. Jika segera bekerja, kita bisa menghitung dana yang digunakan setiap bulannya,” katanya.

Penetapan pelatnas akan diikuti dengan pendidikan dan pelatihan selama dua hari, lantas tes fisik, medik, dan psikologi. ”Tiap atlet akan diberi buku program berisi data diri, pelatih, hasil tes, juga jadwal latihan serta data evaluasi. Ada 13 item tes, seperti kekuatan, kecepatan, fleksibilitas, endurance, dan vertical pump,” kata Hendardji.

Buku perorangan ini perlu untuk data diri dan pemantauan perkembangan atlet. Tiga bulan sekali akan diadakan tes dan dicatat di buku itu, apakah meningkat atau tidak.

Saat ini Indonesia menetapkan 35 cabang yang akan diikuti. Namun, tidak menutup kemungkinan ada penambahan. Keputusan akan didapat setelah pertemuan SEA Games Council yang diikuti 11 negara.

Perhitungan dana

Ketika ditanya soal dana, Hendardji meminta untuk bertanya kepada staf Menpora. ”Katanya kan Rp 200 miliar tahun ini. Penghitungannya tanya staf Menpora,” katanya.

Biaya pelatihan ini di luar biaya penyelenggaraan SEA Games. ”Kalau biaya penyelenggaraan tahun 2011 ya bisa sampai Rp 2 triliun,” kata Hendardji.

Apakah dana akan cair setelah peraturan presiden tentang Program Indonesia Emas keluar? ”Tanya staf Menpora,” ujar Hendardji. Apakah idealnya dana dikelola KONI bersama PB? ”Ya begitu sebaiknya. Kami mengelola dana dan ada pertanggungjawabannya. Tapi, kalau maunya langsung di Menpora, ya tidak apa-apa,” tutur Hendardji.

SEA Games 2011 kemungkinan akan melombakan cabang sepatu roda. Ketua Bidang Pembinaan Prestasi Persatuan Olahraga Sepatu Roda Seluruh Indonesia (Perserosi) Fitra Tara meyakinkan, delapan emas bisa diraih dari sepatu roda. ”Kami sudah kerap menang di kejuaraan di Asia Tenggara dan Asia, atas biaya sendiri. Saatnya kita membuka cabang ini karena kita jadi tuan rumah. Olahraga ini sudah mendunia,” katanya.

Atlet sepatu roda yang sudah mumpuni, misalnya, Johannes Wiharja, Alan Chandra, Ajeng Anindya, dan Eri Marina.

PSSI juga mematok target medali untuk cabang futsal, terutama putri. Andi Zamzani dari Komite Futsal PSSI mengatakan, para pemain diambil dari Liga Futsal Indonesia, baik putra maupun putri tahun ini. (IVV)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau