Dana untuk menalangi utang Yunani itu berasal dari pinjaman-pinjaman bilateral di zona euro ditambah dana dari Dana Moneter Internasional (IMF). Kesepakatan untuk membantu Yunani itu langsung membuat pasar saham Asia kembali bergairah, Jumat.
Kurs euro pun ikut terangkat naik dan mengakhiri kemerosotan dalam 10 bulan terakhir. Kurs euro naik dari 1,3277 dollar AS per euro sehari sebelumnya menjadi 1,3348 dollar AS per euro, Jumat.
Di Jepang, saham unggulan Nikkei naik 167,52 poin, atau 1,6 persen, menjadi 10.996,37 poin.
Di Hongkong, indeks Hang Seng juga naik 79,74 poin atau 0,4 persen menjadi 20.858,29. Di Korea Selatan, indeks Kospi naik 9,33 poin atau 0,6 persen menjadi 1.697,72.
Meski kesepakatan zona euro itu tidak akan langsung menyelamatkan Yunani, tapi kesepakatan itu menjadi landasan kerja dan intervensi pertama IMF di negara zona euro.
Kesepakatan itu juga sekaligus mengendurkan pembatasan, yang selama ini ketat, mengenai pemberian dana talangan antarnegara di zona euro. Ini adalah salah satu kekhasan zona euro, yang membuat kawasan ini mengalami kestabilan moneter dibandingkan dengan kawasan lain di dunia.
Pengetatan pemberian dana talangan memaksa negara-negara disiplin soal anggaran. Namun, masalah kemudian muncul ketika warga Eropa semakin menua. Ini memberi konsekuensi semakin besarnya keperluan akan jaminan sosial, sementara produktivitas menurun.
Hal inilah yang membuat sejumlah negara di Eropa tak mampu mempertahankan disiplin anggaran.
Dalam kesepakatan zona euro disebutkan cara-cara bagi negara-negara anggota untuk membantu Yunani dalam keadaan darurat. Negara-negara anggota akan memberikan kontribusi berupa pinjaman dengan tambahan pinjaman yang substansial dari IMF.
Mekanisme pencairan dana itu bisa dilakukan manakala negara-negara menilai keadaan sudah terlalu genting di Yunani. Namun, keputusan membantu Yunani akan didasarkan pada hasil penilaian Komisi Eropa dan Bank Sentral Eropa.
Kriteria penilaian akan didasarkan pada potensi risiko ketidakstabilan di negara yang menjadi sasaran penilaian dan zona euro secara keseluruhan.
Presiden Perancis Nicolas Sarkozy menyebutkan, IMF akan memberi bantuan sejumlah sepertiga dari dana yang diperlukan, dan sisanya berasal dari zona euro.
Presiden Uni Eropa (UE) Herman van Rompuy mengatakan, jika bantuan dibutuhkan, dana akan disiapkan secara simultan oleh IMF dan zona euro.
Meski dampak positif mulai terlihat, sejumlah pelaku pasar mengatakan masih mencerna seberapa efektif paket itu. Kesepakatan itu juga menimbulkan perdebatan karena masuknya IMF. Ini mencitrakan ketidakmampuan zona euro mengatasi masalahnya sendiri.
”Pasar sudah mengetahui, pada akhirnya akan ada semacam bantuan untuk Yunani. Namun, kesepakatan para pemimpin zona euro kurang rinci. Pasar belum yakin Yunani bisa merombak pengeluaran negara,” kata Daisuke Karamaka, ekonom dari Mizuho Corporate Bank.
Pihak lain berpandangan, keterlibatan IMF bisa mempercepat rekonstruksi fiskal Yunani. Namun, banyak yang mengatakan, ada potensi pengetatan ekstrem oleh IMF, yang justru bisa merusak ekonomi Yunani.
Masuknya IMF dalam paket bantuan itu merupakan hasil dorongan Jerman, yang sebelumnya lebih memilih penyerahan masalah Yunani ke tangan IMF.
Sebagai negara dengan perekonomian terbesar di zona euro, warga Jerman sangat keberatan jika harus membuka dompet untuk menalangi Yunani. Warga Jerman menilai, Yunani lebih suka berhura-hura.
Sebaliknya, Perancis semula menolak dengan keras keterlibatan IMF karena bisa mempermalukan zona euro. Akan tetapi, Perancis mau berkompromi setelah Jerman bersedia mempertimbangkan pinjaman langsung kepada Yunani.
Athena harus menanggung biaya pinjaman lebih dari dua kali lipat dibanding Jerman, dan harus meminjam sekitar 16 miliar euro (sekitar 21,27 miliar dollar AS atau Rp 195,7 triliun) pada 20 April hingga 23 Mei untuk membayar utang-utang yang telah jatuh tempo.
Kesepakatan zona euro dicapai setelah pertemuan seminggu lebih. Ini memberi sinyal kepada pasar bahwa zona euro belum retak.