17 Imigran Ditangkap

Kompas.com - 27/03/2010, 04:10 WIB

Medan, Kompas - Petugas Kantor Imigrasi Kelas I Medan, Sumatera Utara, mengamankan lima imigran asal Afganistan dan 12 imigran asal Irak, Kamis lalu. Para imigran itu tidak memiliki cukup dokumen untuk bisa melanjutkan perjalanan.

”Imigran dari Irak memiliki paspor, tetapi tidak mempunyai visa dan tidak jelas sponsornya siapa. Sementara yang dari Afganistan tidak memiliki identitas apa pun,” kata Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Polonia, Medan, Abdul Rahmat di ruang kerjanya, Jumat (26/3).

Kelima warga Afganistan yang semuanya laki-laki itu ditangkap petugas imigrasi saat hendak bertolak ke Jakarta melalui Bandara Polonia, Medan. Adapun 12 warga Irak yang terdiri atas enam perempuan dan enam laki-laki itu ditangkap di Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang. Saat itu mereka sedang berada di jalan seusai makan di sebuah warung.

Para imigran itu masuk ke Indonesia melalui perairan Kota Tanjung Balai, Sumut, setelah singgah di Malaysia. Abdul menduga ada warga Indonesia yang terlibat dalam jaringan imigrasi tersebut. Biasanya mereka menjadi semacam agen yang menjanjikan menyeberangkan mereka ke negara tujuan dengan imbalan sejumlah uang.

”Indonesia hanya sebagai negara transit karena tujuan utama para imigran tersebut Australia,” kata Abdul.

Mencari suaka

Abdul belum mengetahui secara pasti motif para imigran datang ke Australia. Berkaca dari kasus serupa, biasanya mereka ke Australia untuk mencari suaka politik karena di negara asal mereka sedang tidak aman akibat konflik.

”Taliban di Afganistan, kan, masih suka mengejar penduduk setempat. Irak juga belum benar-benar aman,” papar Abdul.

Sementara itu, pihak kantor imigrasi sendiri belum memeriksa secara rinci mengenai tujuan dan motif para imigran tersebut. Pihak kantor imigrasi memberi kesempatan lebih dulu kepada Organisasi Internasional untuk Imigran (IOM). Hingga Jumat pukul 16.00, mereka masih memeriksa para imigran itu di kantor imigrasi. Pemeriksaan tersebut meliputi kondisi kesehatan sampai kelengkapan dokumen.

Dua dari imigran itu dalam kondisi sakit sehingga belum bisa dimintai keterangan. Adapun imigran lainnya menunggu pemeriksaan sambil merebahkan diri di lantai beralas tikar seadanya. Ada juga yang lahap menyantap makan siang.

Ketika para wartawan masuk ke ruangan pemeriksaan untuk mengambil gambar, para imigran itu buru-buru menutup muka.

”Sudah. Hentikan,” kata seorang imigran dengan bahasa Inggris. Para imigran itu menginap di kantor imigrasi.

Menurut Abdul Rahmat, para imigran, seperti orang-orang yang diamankan itu, rawan menjadi korban penyelundupan manusia.

Ia menjelaskan, fenomena penyelundupan manusia itu sudah terjadi sejak lama dan makin meningkat dalam 10 tahun terakhir. Di Kota Medan, sejak Januari hingga Maret ini, kantor imigrasi sudah mencatat 50 imigran yang transit di Indonesia, tetapi tidak memiliki dokumen lengkap.

Pada akhir Januari 2010, Kepolisian Sektor Perscut Sei Tuan, Deli Serdang, mengamankan 26 imigran asal Afganistan. Awal Maret lalu, tujuh imigran asal Afganistan dan Irak juga diamankan di Bandara Polonia, Medan. (MHF)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau