Film

Perdagangan Manusia dalam "TRADE"

Kompas.com - 28/03/2010, 04:24 WIB

Maria hartiningsih

”Trade” bukan sekadar film. Cerita di dalam film yang disutradarai Marco Kreuzpaintner ini adalah sepotong dari lembar raksasa gambaran dunia hitam bisnis kriminal perbudakan seks zaman ini.

Trade memperlihatkan, tak pernah ada istilah ”fair trade” bagi perempuan dan anak-anak korban perdagangan orang. Film yang diadopsi dari laporan Peter Landesman, ”The Girl Next Door”, yang menjadi cerita sampul The New York Time Magazine, pada 24 Januari 2004 itu memotret dinamika global perdagangan seks antar negara. Fokusnya pada mata rantai pemasok, jalur ”pengiriman”, serta posisi Amerika Serikat dalam bisnis kriminal ini.

AS ditengarai sebagai negara tujuan utama perdagangan orang lintas batas (trafficking) di dunia; satu dari tiga bisnis kriminal paling menguntungkan setelah perdagangan gelap narkotika dan obat terlarang serta perdagangan senjata bawah tanah.

Industri global perdagangan orang mengeruk sekitar 31,6 miliar dollar AS setahun—sebagian besar dari bisnis seks—berbanding terbalik pertumbuhannya dengan ekonomi global yang dihantam krisis. Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan, sekitar empat juta perempuan serta anak perempuan dan laki-laki menjadi korban kegiatan kriminal itu.

Film yang lebih cocok dimasukkan ke kategori film kampanye anti-trafficking ini dibuka dengan sekuen kehidupan di Mexico City. Seluruhnya menggambarkan rumitnya masalah trafficking karena berakar pada soal struktural yang amat dalam: alam yang gersang, daerah kumuh, padat dan sangat miskin, pengangguran, kriminalitas, kehidupan malam, dan pariwisata.

Empat dalam satu

Trade membawa kita pada empat perjalanan yang terpisah untuk menuju New Jersey, AS, ke sebuah rumah milik bos sindikat, seorang perempuan muda (Kate del Castillo). Itulah terminal pelelangan anak dan seks, yang hanya bisa diakses lewat internet dengan kode khusus di kalangan para pedofil (laki-laki tua penyuka hubungan seks dengan anak perempuan di bawah umur) dan pederast (laki-laki tua penyuka hubungan seksual dengan anak laki-laki di bawah umur).

Kisah pertama tentang Adriana (Paulina Gaitán), gadis 13 tahun dari keluarga miskin di perkampungan kumuh di Mexico City, yang diculik jaringan perdagangan seks saat bermain sepeda. Sang ibu sebenarnya melarang anak bungsunya itu menyentuh sepeda hadiah ulang tahun dari kakaknya, Jorge (Cesar Ramos), karena punya firasat buruk tentang pekerjaan Jorge, pengangguran, yang ternyata terlibat kerja kriminal, penipuan, perampokan, dan makelar seks.

Kisah lain adalah perjalanan Veronica (Alicya Bachleda), ibu satu anak, dan temannya dari Polandia ke negeri impian, AS. Mereka disambut anggota sindikat di bandara Mexico City yang berjanji membawa mereka ke Los Angeles, AS. Veronica menyadari ketidakberesan ketika paspor mereka diambil, tetapi terlambat.

Perjalanan Jorge menyelamatkan Adriana dan korban trafficking lain, termasuk seorang anak laki-laki dari Thailand yang diselundupkan lewat jalan darat ke AS, membuatnya berhubungan dengan Ray (Kevin Klein). Polisi Texas untuk masalah penggelapan uang itu juga sedang mencari anak perempuannya yang menjadi korban perdagangan orang saat berusia 9 tahun. Mereka bekerja sama membongkar jaringan trafficking itu.

Pertaruhan

Film 119 menit itu memotret kebiadaban praktik perdagangan orang. Upaya penyelamatannya mempertaruhkan nyawa dan berpacu dengan waktu. Terlambat berarti lenyap.

Pesan film ini jauh lebih penting ketimbang beberapa adegan ala film detektif Hollywood yang terasa basi: bahwa perbudakan seks terus berlangsung, kian mengglobal, melibatkan pelaku laki-laki dan perempuan, dengan kekejian yang tak terbayangkan dalam prosesnya, dan korban yang raib dalam perjudian nasib.

Trade juga memperlihatkan sifat hakiki ”oknum” aparat: tak peduli, brutal, korup, dan kecenderungan melanggar seluruh hak yang paling asasi. Juga fakta bahwa pelaku sangat religius dan ayah yang ”baik”; beserta simbol terbalik; bunga mawar bagi serentetan penderitaan berujung kematian.

Beberapa adegan dibiarkan terbuka. Di antaranya, ekspresi Ray saat menatap mata hijau bos sindikat di rumahnya di New Jersey setelah memenangi lelang sebesar 32.000 dollar AS atas Adriana. Tatapan itu terasa mengandung kenangan akan mata hijau perempuan selingkuhannya yang tega menjual anak perempuannya. Dari foto kanak-kanak yang lusuh, anak perempuannya juga bermata hijau dan mungkin sudah seusia perempuan dengan tatapan dingin di depannya.

Juga ketika Jorge menikam bos penculik, laki-laki keturunan Rusia (Pavel Lychnikoff), yang menikahi perempuan lokal. Film ditutup dengan janji ayah untuk pulang dan Jorge yang ternganga saat menyadari bos penculik itu punya anak kecil.

Separuh akhir film dibingkai adegan mencekat tentang pergulatan merebut martabat. Veronica menolak diperkosa Manuelo (Marco Perez). Pada puncak deritanya di atas bukit batu tak jauh dari patung Madonna, mengalun lagu Agnus Dei yang menyayat, seperti menangisi lakon manusia: ”Agnus Dei, qui tolis peccata mundi, miserere nobis….”

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau