Maria hartiningsih
”Trade” bukan sekadar film. Cerita di dalam film yang disutradarai Marco Kreuzpaintner ini adalah sepotong dari lembar raksasa gambaran dunia hitam bisnis kriminal perbudakan seks zaman ini.
Trade
AS ditengarai sebagai negara tujuan utama perdagangan orang lintas batas (trafficking) di dunia; satu dari tiga bisnis kriminal paling menguntungkan setelah perdagangan gelap narkotika dan obat terlarang serta perdagangan senjata bawah tanah.
Industri global perdagangan orang mengeruk sekitar 31,6 miliar dollar AS setahun—sebagian besar dari bisnis seks—berbanding terbalik pertumbuhannya dengan ekonomi global yang dihantam krisis. Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan, sekitar empat juta perempuan serta anak perempuan dan laki-laki menjadi korban kegiatan kriminal itu.
Film yang lebih cocok dimasukkan ke kategori film kampanye anti-trafficking ini dibuka dengan sekuen kehidupan di Mexico City. Seluruhnya menggambarkan rumitnya masalah trafficking karena berakar pada soal struktural yang amat dalam: alam yang gersang, daerah kumuh, padat dan sangat miskin, pengangguran, kriminalitas, kehidupan malam, dan pariwisata.
Trade
Kisah pertama tentang Adriana (Paulina Gaitán), gadis 13 tahun dari keluarga miskin di perkampungan kumuh di Mexico City, yang diculik jaringan perdagangan seks saat bermain sepeda. Sang ibu sebenarnya melarang anak bungsunya itu menyentuh sepeda hadiah ulang tahun dari kakaknya, Jorge (Cesar Ramos), karena punya firasat buruk tentang pekerjaan Jorge, pengangguran, yang ternyata terlibat kerja kriminal, penipuan, perampokan, dan makelar seks.
Kisah lain adalah perjalanan Veronica (Alicya Bachleda), ibu satu anak, dan temannya dari Polandia ke negeri impian, AS. Mereka disambut anggota sindikat di bandara Mexico City yang berjanji membawa mereka ke Los Angeles, AS. Veronica menyadari ketidakberesan ketika paspor mereka diambil, tetapi terlambat.
Perjalanan Jorge menyelamatkan Adriana dan korban trafficking lain, termasuk seorang anak laki-laki dari Thailand yang diselundupkan lewat jalan darat ke AS, membuatnya berhubungan dengan Ray (Kevin Klein). Polisi Texas untuk masalah penggelapan uang itu juga sedang mencari anak perempuannya yang menjadi korban perdagangan orang saat berusia 9 tahun. Mereka bekerja sama membongkar jaringan trafficking itu.
Film 119 menit itu memotret kebiadaban praktik perdagangan orang. Upaya penyelamatannya mempertaruhkan nyawa dan berpacu dengan waktu. Terlambat berarti lenyap.
Pesan film ini jauh lebih penting ketimbang beberapa adegan ala film detektif Hollywood yang terasa basi: bahwa perbudakan seks terus berlangsung, kian mengglobal, melibatkan pelaku laki-laki dan perempuan, dengan kekejian yang tak terbayangkan dalam prosesnya, dan korban yang raib dalam perjudian nasib.
Trade
Beberapa adegan dibiarkan terbuka. Di antaranya, ekspresi Ray saat menatap mata hijau bos sindikat di rumahnya di New Jersey setelah memenangi lelang sebesar 32.000 dollar AS atas Adriana. Tatapan itu terasa mengandung kenangan akan mata hijau perempuan selingkuhannya yang tega menjual anak perempuannya. Dari foto kanak-kanak yang lusuh, anak perempuannya juga bermata hijau dan mungkin sudah seusia perempuan dengan tatapan dingin di depannya.
Juga ketika Jorge menikam bos penculik, laki-laki keturunan Rusia (Pavel Lychnikoff), yang menikahi perempuan lokal. Film ditutup dengan janji ayah untuk pulang dan Jorge yang ternganga saat menyadari bos penculik itu punya anak kecil.
Separuh akhir film dibingkai adegan mencekat tentang pergulatan merebut martabat. Veronica menolak diperkosa Manuelo (Marco Perez). Pada puncak deritanya di atas bukit batu tak jauh dari patung Madonna, mengalun lagu Agnus Dei yang menyayat, seperti menangisi lakon manusia: ”Agnus Dei, qui tolis peccata mundi, miserere nobis….”