Ibas Yudhoyono Diharapkan Konsisten Tidak Calonkan Diri

Kompas.com - 29/03/2010, 07:28 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Putra Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Edhi Baskoro, yang sebelumnya sempat santer disebut-sebut akan melenggang ke arena perebutan kursi ketua umum Partai Demokrat, diharapkan tetap konsisten tidak mencalonkan diri. Pencalonan diri sebagai calon ketua umum hanya akan membuat Partai Demokrat sebagai partai keluarga.

"Selain itu, jika Ibas maju, pertarungan menjadi tidak imbang. Praktis para peserta Kongres Partai Demokrat akan menjatuhkan pilihannya kepada Ibas," kata pengamat politik Burhanuddin Muhtadi, Minggu (28/3/2010) di Jakarta.

Seperti diwartakan, pada Rakornas Partai Demokrat akhir pekan lalu, Ibas mengatakan tidak akan mencalonkan diri. "Saya masih kader yunior atau kader balita. Baru lima tahun sehingga masih perlu belajar politik dan berkonsentrasi penuh menjalankan fungsi sebagai anggota DPR," ujarnya.

Hal senada disampaikan Ketua Umum PD Hadi Utomo, yang tidak lain paman Ibas. "Ibas masih perlu waktu menempa diri. Pada waktunya dia akan muncul. Karier politik tidak bisa tiba-tiba," katanya.

Burhanuddin juga berharap Ketua Dewan Pembina PD Susilo Bambang Yudhoyono tidak menganakemaskan calon ketum tertentu sehingga tidak menimbulkan kecemburuan politik yang pada ujungnya berpotensi menyebabkan perpecahan di tubuh partai.

"Kandidat juga jangan membuat klaim kedekatannya dengan SBY. Jual-lah program-program, platform, dan cetak biru pembangunan Partai Demokrat yang lebih maju," ujarnya.

Ditambahkan Burhanuddin, kongres merupakan momentum bagi PD untuk melakukan percepatan dan modernisasi partai. Dengan demikian, PD tidak lagi menjadi partai yang bergantung pada figur SBY.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau