Wawancara tersangka terorisme

Yudi: Dulmatin yang Mengatur Semuanya

Kompas.com - 30/03/2010, 03:26 WIB

Yudi Zulfahri (27) adalah salah satu tersangka terorisme yang ditangkap polisi dari Polres Aceh Besar di Jantho pada 22 Februari 2010. Pemuda Aceh ini berperan penting dalam menghubungkan jaringan teroris lama di Pulau Jawa dengan warga lokal Aceh. Yudi pula yang menjadi salah satu orang kepercayaan Dulmatin untuk mewujudkan proyeknya—yang belakangan diakui Yudi terburu-buru—yakni mendirikan basis pelatihan militer di Jantho, Aceh Besar.

Yudi aktif menghubungkan jaringan di Pulau Jawa dengan Aceh sehingga kerap hilir mudik Aceh, Jakarta, Bandung, Depok, Pamulang (Tangerang Selatan, Banten). Pamulang merupakan lokasi persembunyian Dulmatin hingga tewas disergap Satuan Tugas Antiteror Polri pada Selasa 9 Maret 2010.

Berikut ini adalah kelanjutan petikan wawancara dengan Yudi yang dilakukan di Banda Aceh, 17 Maret 2010. Petikan wawancara sebelumnya berjudul ”Yudi: Awalnya Saya Hanya Ingin Belajar Agama” (Kompas, 29 Maret 2010). Dalam tulisan tersebut Yudi menceritakan awal ketertarikannya memperdalam ilmu agama Islam sehingga berhubungan dengan orang-orang yang berpaham bahwa pemerintah harus menegakkan hukum syariah Islam di Indonesia. Yudi juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap pemerintah lokal di Nanggroe Aceh Darussalam yang dinilainya tidak serius menegakkan syariah di tanah Serambi Mekkah itu.

Bagaimana awalnya kenal dengan Sofyan Tsauri?

Saya kenal dengan Sofyan Tsauri (polisi desersi dari Polres Depok) karena dikenalkan rekanan distributor buku di Lenteng Agung (Jakarta Selatan), Pak Azzam. Dia (Azzam), setelah tahu saya PNS yang keluar, lalu cerita punya teman polisi yang juga ingin keluar dari kepolisian. Sofyan juga rumahnya tak jauh dari situ, di Kelapa Dua (Depok) waktu itu. Saya akhirnya kenal baik dengan Sofyan karena dia juga koleksi buku-buku soal jihad. Dia lalu ajak saya bisnis soft gun (senjata mainan). Saya ikut kerja sama dia dan batal kerja dengan Azzam.

Sofyan juga ikut pengajian dengan Ustaz Kamal, murid Ustaz Aman Abdurrahman?

Inginnya begitu. Tetapi komunitas Ustaz Aman keberatan awalnya karena Sofyan masih polisi waktu itu. Lalu, Maret 2008 saya kembali ke Aceh lagi. Saya coba bangun komunitas yang sepaham, yang saya kenal melalui pengajian Abu Nur, yang saya ikuti.

Beliau juga kecewa dengan penegakan syariah di Aceh yang tidak serius. Tetapi beliau tidak beraliran seperti pengajian Ustaz Aman dan Ustaz Halawi terkait orang-orang yang tidak sepaham. Kami dakwah ke mana-mana (di Aceh).

Lalu bagaimana komunikasi dengan jaringan di Jawa?

Ustaz Kamal menyusul saya ke Aceh, dan tinggal di Aceh, ikut dakwah. Akhir 2008 lalu Sofyan datang bersama istrinya (orang Aceh) untuk mudik. Saya temukan dengan komunitas di sini. Lalu bicarakan soal pelatihan. Semua semangat. Saya juga temui Abdul Razak, mantan Gerakan Aceh Merdeka yang masih ingin berjuang. Sofyan lalu menghubungi temannya di Jawa Tengah soal rencana itu.

Lalu, awal 2009, Sofyan ke Aceh lagi dengan Mus’ab (salah satu buronan terorisme). Orang dari Solo (Jawa Tengah). Kami (komunitas yang dibangun Yudi di Aceh) lalu carikan ruko kosong di Ketapang (Banda Aceh) untuk tempat tinggal sementara Sofyan dan Mus’ab. Sekitar tiga hari kemudian, datang lagi orang yang mengaku bernama Yahya (belakangan diketahuinya adalah Dulmatin). Dia diundang datang oleh Mus’ab. Kita lalu bicarakan soal rencana pelatihan, tetapi belum teknis. Kami (termasuk Dulmatin) sempat silaturahmi ke Ustaz Muslim di Lhok Seumawe. Tak bicarakan soal pelatihan.

Kira-kira Maret 2009 Yahya datang lagi. Waktu itu digelar pelatihan FPI (Front Pembela Islam) di Lhok Seumawe untuk mujahidin yang mau dikirim ke Palestina (belakangan batal). Komunitas saya tak ada yang ikut, nonton saja, karena kita punya rencana pelatihan sendiri. Yahya juga lihat, tidak lama lalu pulang. Tetapi tak lama tiba-tiba datang lagi (ke Aceh) dengan Ubeid dan Abu Tolud (keduanya buron. Ubeid adalah mantan narapidana terorisme). Kami menyambung lagi pembicaraan soal pelatihan dan jemaah kami. Cuma beberapa hari, mereka kembali ke Jakarta, pakai (pesawat) Lion.

Bagaimana dengan Sofyan?

Kira-kira Mei 2009, Sofyan datang dengan Abdullah Sonata (mantan narapidana terorisme yang bebas April 2009) dan Maulana (buronan lama percobaan pembunuhan mantan Ketua MPR Matori Abdul Jalil, tahun 1999). Kami lalu survei tempat latihan di Payabakung, Aceh Utara. Tetapi Sonata tidak setuju karena masih dekat kampung. Baru kemudian cari lagi dengan bantuan Abu Rimba (mantan anggota GAM) dapat tempat di Jantho, Aceh Besar.

Bagaimana dengan persiapan teknis?

Saya akhirnya sering ke Jakarta karena sekaligus ikut kursus bahasa Arab di Bandung. Saya sering ketemu dengan Yahya dan Sonata di masjid di terminal bus Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Tiap akhir pekan ketemu Yahya di Pamulang, kadang di rumah makan di Depok. Saya ketemu Ustaz Yusuf (buron) di Pamulang. Yahya atur semuanya. Dia seperti bekerja sendiri. Saya ditugaskan bantu pasok senjata lewat Sofyan. Yahya kasih saya uang, saya kasih Sofyan, lalu Sofyan yang atur, tak tahu bagaimana. Satu pucuk Rp 17 juta (M-16 dan AK-47).

Uang Yahya dari mana?

Tidak tahu. Dia kasih saya tunai. Intensif kumpulkan senjata satu per satu sekitar Oktober 2009. Dari saya dan Sofyan enam pucuk, sisanya (total 15 pucuk) Yahya yang atur. Akhirnya, Januari 2009 saya disuruh Yahya balik ke Aceh untuk buka kamp itu. Tetapi mungkin karena terburu-buru, bulan Februari sudah ketahuan polisi. (Sarie Febriane)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau