China

Revaluasi Yuan Bukan Solusi bagi AS

Kompas.com - 01/04/2010, 03:47 WIB

Beijing, Rabu - Kurs mata uang China, yuan, bukanlah penyebab kemerosotan ekonomi AS ataupun ketidakseimbangan perdagangan antara AS dan China. Karena itu, desakan AS atas revaluasi yuan bukanlah solusi atas masalah yang dihadapi AS dan perdagangan antarkedua negara.

Hal itu disampaikan petinggi Bank Dunia, Hans Timmer, seperti dilaporkan Xinhua, Rabu (31/3).

Pandangan yang sama disampaikan ekonom peraih Nobel, Joseph E Stiglitz. Profesor dari Universitas Colombia itu menekankan, ada banyak cara bagi AS untuk mengatasi ketidakseimbangan perdagangan dengan China. Salah satunya adalah melonggarkan pembatasan ekspor produk berteknologi tinggi ke China.

Kurs yuan terhadap dollar AS saat ini dipertahankan stabil di kisaran 6,83 yuan per dollar sejak Juli 2008. Nilai kurs ini menolong eksportir dari resesi global dan kontraksi dalam perdagangan dunia. Kurs itu dianggap terlalu rendah dan membuat harga ekspor China relatif rendah.

Untuk mencegah penguatan yuan, Bank Sentral China terus melakukan pembelian dollar AS sehingga cadangan devisa China saat ini menjadi terbesar di seluruh dunia, yakni 2,4 triliun dollar AS pada akhir 2009.

AS menilai langkah ini telah mendorong defisit di pihak AS dalam perdagangan bilateral dengan China.

Namun, seperti dikutip The China Daily, Stiglitz pada pertemuan tahunan Forum Pembangunan China di Beijing, lepas dari tuntutan AS, China tetap perlu memperbaiki kurs yuan, mempermudah investasi asing, dan menyesuaikan kebijakan fiskal.

Sejumlah pakar menyebutkan, kurs yuan terlalu rendah sekitar 40 persen. Dengan kata lain, kurs yuan seharusnya berada pada kisaran 4 yuan per dollar AS.

Hans Timmer, Direktur Kelompok Prospek Pembangunan Bank Dunia, juga tidak sependapat dengan penilaian AS bahwa kurs yuan berada di bawah nilai yang sebenarnya (undervalue) terhadap dollar AS.

Dollar tidak stabil

Akan tetapi, hampir semua ekonom menekankan bahwa defisit perdagangan AS bukan semata-mata karena kurs yuan walaupun mereka mengakui kurs yuan terlalu rendah

Pandangan Timmer dan Stiglitz digunakan para akademisi China yang menyerukan agar pemerintah tetap bertahan menghadapi tekanan AS atas revaluasi yuan.

Chen Yulu—Wakil Rektor Universitas China Renmin, ketika berbicara dalam forum yang sama dengan Stiglitz—mengatakan ”bodoh sekali” jika para senator AS menuntut revaluasi yuan. ”Mata uang China tidak undervalue, dan kebijakan nilai tukar mata uang asing tidak berdampak banyak pada ketidakseimbangan perdagangan,” kata Chen Yulu.

Walau Gedung Putih mengecam kurs yuan, masalah pada perekonomian AS adalah produktivitas yang terlalu rendah dibandingkan China. Hal ini membuat kinerja ekonomi AS lemah jika harus bersaing dengan China. (AP/AFP/Reuters/OKI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau