BANDAR HARCOURT, KOMPAS.com — Perompak membebaskan kapten dan awak kapal Ghana di perairan Nigeria, Rabu, tiga hari sesudah mereka menguasainya di lepas pantai Kamerun.
Para begundal itu membajak kapal pembawa barang kebutuhan pokok dari Ghana ke Kamerun dan Nigeria hari Minggu lalu dan meminta uang tebusan 1,5 juta dollar AS (sekitar Rp 15 miliar). "Anggota kami menemukan kapal itu ditinggalkan di Abana dan kami menyeretnya ke Calabar," kata juru bicara Angkatan Laut Nigeria, Komodor David Nabaida, "Sekarang, mereka dan kapal itu di Calabar." Ia mengaku tidak tahu apakah tebusan diberikan untuk pembebasan kedua awak yang tidak terluka akibat serangan di semenanjung Bakassi itu.
Tak ada kelompok yang menyatakan bertanggung jawab atas kejadian itu. Semenanjung Bakassi, yang berpeluang menjadi sumber minyak dan gas, merupakan sarang beberapa kelompok bersenjata, yang bergerak di teluk Guinea.
Perompakan pada hari Minggu itu merupakan perompakan terbaru di kepulauan Bakassi, dua pekan setelah kelompok tak dikenal menamakan diri Komando Marinir Afrika membajak kapal nelayan China dan tujuh awaknya di perairan tersebut. Pejabat pemerintah dan tentara setempat menyatakan, mereka yakin kelompok yang sama bertanggung jawab terhadap serangan terbaru itu. Para nelayan China ditahan beberapa hari dan kemudian dibebaskan setelah pejabat China dan Kamerun berunding dengan para penculik tersebut.
Sementara itu, akhir pekan lalu, perompak menyerang kapal barang Turki di lepas pantai Nigeria dan melukai tiga awaknya. Demikian dikatakan kantor berita Turki Anatolia. Sebanyak 8 hingga 10 perompak bersenjata otomatis membajak kapal Ozay 5 pada Kamis malam. Mereka merampas uang dan telepon genggam milik awak kapal, tetapi kelompok itu segera lari setelah kapal tersebut mulai membunyikan tanda bahaya.
Perompakan semacam itu jarang terjadi di perairan Afrika Barat. Gerombolan perompak biasanya bergerak di lepas pantai Afrika Timur, yang dalam beberapa tahun belakangan berhasil memperoleh jutaan dolar (miliaran rupiah) dari uang tebusan. Gerombolan perompak Somalia, beberapa di antaranya terdiri atas mantan nelayan, marah akibat kehadiran nelayan asing di perairan Somalia. Pendukungnya di Somalia dan luar negeri mendapatkan puluhan juta dollar AS dalam bentuk tebusan.
Perompak Somalia beroperasi di pantai Afrika Timur, meskipun kapal-kapal angkatan laut asing berpatroli di Lautan India dan Teluk Aden, yang ramai dan menghubungkan Eropa dengan Asia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang