Perompak Bebaskan Dua Awak Kapal Ghana

Kompas.com - 01/04/2010, 13:06 WIB

BANDAR HARCOURT, KOMPAS.com Perompak membebaskan kapten dan awak kapal Ghana di perairan Nigeria, Rabu, tiga hari sesudah mereka menguasainya di lepas pantai Kamerun.

Para begundal itu membajak kapal pembawa barang kebutuhan pokok dari Ghana ke Kamerun dan Nigeria hari Minggu lalu dan meminta uang tebusan 1,5 juta dollar AS (sekitar Rp 15 miliar). "Anggota kami menemukan kapal itu ditinggalkan di Abana dan kami menyeretnya ke Calabar," kata juru bicara Angkatan Laut Nigeria, Komodor David Nabaida, "Sekarang, mereka dan kapal itu di Calabar." Ia mengaku tidak tahu apakah tebusan diberikan untuk pembebasan kedua awak yang tidak terluka akibat serangan di semenanjung Bakassi itu.

Tak ada kelompok yang menyatakan bertanggung jawab atas kejadian itu. Semenanjung Bakassi, yang berpeluang menjadi sumber minyak dan gas, merupakan sarang beberapa kelompok bersenjata, yang bergerak di teluk Guinea.

Perompakan pada hari Minggu itu merupakan perompakan terbaru di kepulauan Bakassi, dua pekan setelah kelompok tak dikenal menamakan diri Komando Marinir Afrika membajak kapal nelayan China dan tujuh awaknya di perairan tersebut. Pejabat pemerintah dan tentara setempat menyatakan, mereka yakin kelompok yang sama bertanggung jawab terhadap serangan terbaru itu. Para nelayan China ditahan beberapa hari dan kemudian dibebaskan setelah pejabat China dan Kamerun berunding dengan para penculik tersebut.

Sementara itu, akhir pekan lalu, perompak menyerang kapal barang Turki di lepas pantai Nigeria dan melukai tiga awaknya. Demikian dikatakan kantor berita Turki Anatolia. Sebanyak 8 hingga 10 perompak bersenjata otomatis membajak kapal Ozay 5 pada Kamis malam. Mereka merampas uang dan telepon genggam milik awak kapal, tetapi kelompok itu segera lari setelah kapal tersebut mulai membunyikan tanda bahaya.

Perompakan semacam itu jarang terjadi di perairan Afrika Barat. Gerombolan perompak biasanya bergerak di lepas pantai Afrika Timur, yang dalam beberapa tahun belakangan berhasil memperoleh jutaan dolar (miliaran rupiah) dari uang tebusan. Gerombolan perompak Somalia, beberapa di antaranya terdiri atas mantan nelayan, marah akibat kehadiran nelayan asing di perairan Somalia. Pendukungnya di Somalia dan luar negeri mendapatkan puluhan juta dollar AS dalam bentuk tebusan.

Perompak Somalia beroperasi di pantai Afrika Timur, meskipun kapal-kapal angkatan laut asing berpatroli di Lautan India dan Teluk Aden, yang ramai dan menghubungkan Eropa dengan Asia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau