Pada Sabtu pekan lalu, jumlah pemrotes, yang dikenal sebagai kelompok ”Kaus Merah”, mencapai 80.000 orang. Mereka mendatangi pos-pos pemeriksaan dan berhasil membuat militer mundur dari posisi mereka.
”Pemrotes Kaus Merah mulai masuk ke ibu kota, terutama dari wilayah utara dan timur laut. Mereka mungkin beraksi di tempat-tempat yang simbolis secara politik dan memblokade persimpangan-persimpangan kunci sehingga melumpuhkan Bangkok,” kata juru bicara kepolisian Thailand, Mayor Jenderal Piya Uthayi.
Kaus Merah mengklaim protes pada Sabtu ini akan menjadi yang terbesar dibandingkan sebelumnya. Namun, otoritas Thailand menyatakan, banyak warga pedesaan yang menjauhkan diri dari aksi protes karena Festival Songkran segera tiba.
”Meskipun jumlah mereka lebih sedikit, pemerintah khawatir tentang lalu lintas dan industri pariwisata,” kata juru bicara Pemerintah Thailand, Panitan Wattanayagorn.
Festival Songkran biasanya menjadi daya tarik bagi wisatawan asing untuk datang ke Thailand. Kemarin, pelaku industri pariwisata Thailand meminta pemerintah dan pemrotes untuk berdamai dan menemukan cara menghentikan aksi protes di jalanan yang menurut mereka membuat turis takut datang.
Mereka berencana menggelar aksi mereka sendiri di pusat kota Bangkok. ”Demonstrasi, dengan pemrotes memblokir jalan, telah mengganggu wisatawan. (Protes) ini merusak citra negara dan melumpuhkan perekonomian,” kata Apichart Sankary, penasihat pada Federasi Asosiasi Pariwisata Thailand.
Sebuah kelompok antiprotes, yang berkostum merah jambu, kemarin menggelar protes di Taman Lumpini. Kelompok propemerintah itu menyatakan, mereka frustrasi dengan kebisingan yang dibuat Kaus Merah dan meminta aksi mereka dihentikan.
Kaus Merah langsung menuding pemerintah membuat protes tandingan. ”Saya bertanya kepada Perdana Menteri, apakah Anda ingin rakyat saling berkonfrontasi supaya Anda bisa terus menjabat?” kata salah satu pemimpin Kaus Merah, Jatuporn Promphan.
Kaus Merah memulai aksinya pada 14 Maret dengan lebih dari 100.000 pendukung. Memasuki pekan keempat, jumlah mereka terus berkurang.
Mereka mendesak PM Abhisit untuk segera membubarkan parlemen dan menggelar pemilu dini. Abhisit menolak tuntutan itu dan menawarkan pembubaran parlemen pada akhir tahun ini, tetapi Kaus Merah menolaknya.
Sudah dua putaran perundingan digelar antara Abhisit dan para pemimpin protes, tetapi tidak membuahkan hasil. Kaus Merah menolak tawaran perundingan ketiga pada Kamis lalu.
Abhisit kemarin kembali menyatakan dirinya terbuka untuk berunding kembali. Syaratnya, Kaus Merah tidak mengintimidasi kelompok lain.
”Jika gerakan protes tetap berada di jalur hukum, pintu masih terbuka untuk ronde ketiga perundingan,” ujar Abhisit.
Di New York, Menteri Luar Negeri Thailand Kasit Piromya mengatakan, pemerintah telah memproyeksikan digelarnya perundingan dengan pemrotes selama 6-9 bulan mendatang. Hasil akhirnya diharapkan berupa referendum oleh rakyat Thailand.
Gagasan tentang digelarnya referendum untuk menenangkan situasi telah dimunculkan oleh Pemerintah Thailand. Abhisit juga telah berjanji akan merevisi Konstitusi 2007 yang dianggap oleh pemrotes tidak demokratis. Akan tetapi, Perdana Menteri masih mengharapkan adanya negosiasi dengan pemrotes.
”Sekali kami sampai pada kesepakatan soal rezim politik baru, saya kira perdamaian, stabilitas, dan rekonsiliasi akan kembali ke masyarakat Thailand, semoga pada akhir tahun ini,” kata Kasit dalam wawancara dengan kantor berita Associated Press. (ap/afp/reuters/fro)