Memasak? Siapa Takut!

Kompas.com - 04/04/2010, 04:00 WIB

Iya sih, kalau tidak makan perut jadi lapar dan tubuh pun lemas. Tetapi, sekarang Nuno paling sebal kalau diminta Bunda untuk membantu memasak. Padahal, sebelumnya Nuno, yang anak tunggal, cukup sering membantu Bunda di dapur.

Itu sebabnya Nuno tahu jenis-jenis bumbu masakan dari yang jelas terlihat berbeda warna, seperti bawang merah, bawang putih, dan bawang bombai, sampai bumbu yang kecil-kecil, seperti ketumbar dan merica.

Nuno juga cukup terampil mengiris dan menghaluskan bumbu. Kalau Nuno melakukan tugas dapurnya dengan baik, Bunda tidak pelit memberikan pujian. Nuno merasa bangga dengan pujian Bunda.


TETAPI TIDAK setelah kejadian menyebalkan itu. Seminggu lalu, Nuno berjanji dengan Sigit, Seno, Andi, Nugi, dan Daru untuk bermain bola di lapangan belakang kompleks. Biasanya, mereka bertemu di lapangan. Tumben, hari itu teman-teman menjemput Nuno ke rumah. Ketika Nuno membuka pintu, tangan yang satunya masih memegang ulekan.

”Sebentar ya, aku lagi bantu Bunda mengulek bumbu. Sudah mau selesai, kok,” kata Nuno tidak menyangka Sigit akan tertawa keras.

”Kamu memasak? Ha-ha-ha…, memasak kan pekerjaan anak perempuan. Hiii… teman-teman, Nuno seperti anak perempuan. Wah, enggak bisa diajak main bola dong,” tawa Sigit diikuti yang lain.

Seketika wajah Nuno memerah. ”Kalau lagi libur kerja, Ayahku juga sering membantu Ibu memasak!” Nuno menukas cepat.

”Kalau begitu, Nuno dan ayahnya sama-sama seperti perempuan,” kata Sigit yang masih saja tertawa dengan nada mengejek.

Nuno marah dan ingin memukul mereka dengan ulekan. Tetapi, mereka lari cepat ke arah lapangan meninggalkan Nuno yang marah. Ia jadi enggan ke lapangan bola.


SEDIHNYA, olokan Sigit tidak hanya berhenti di hari itu. Esoknya, ketika Nuno tiba di ruangan kelas empat, Sigit langsung berteriak.

”Teman-teman, lihat, ada anak perempuan datang. Hari ini masak apa, No? Sambal goreng ati ya?” katanya tertawa.

Seno yang selalu mengekor Sigit ke mana-mana bahkan menggoyangkan badan menirukan gerakan penari perempuan. Tawa pun pecah, mungkin menertawakan gerakan Seno yang lucu. Soalnya, belum tentu mereka mengerti mengapa Sigit berkata demikian.

Nuno marah, tetapi dia takut karena badan Sigit lebih besar. Sigit juga tidak sendirian. Sorenya, Nuno menolak membantu Bunda memasak dengan alasan pening.


DUA HARI setelah kejadian itu, Sigit masih saja mengejeknya. Seperti tadi waktu jam istirahat. Seno juga bersemangat menegaskan ejekan Sigit dengan gerakan-gerakannya yang dibuat-buat.

Kalau tidak ingat janji Ayah, rasanya Nuno ingin bolos saja. Ayah berjanji akan membelikan sepeda kalau Nuno punya rata-rata nilai delapan. Nuno takut, kalau bolos ia tidak akan mendapat sepeda yang dijanjikan Ayah.

”Nuno bantu Bunda,” seru Bunda membuka pintu kamar.

Sudah dua jam Nuno diam di kamar sejak makan siang tadi. Ughhhh! Nuno diam saja.

”Kamu kenapa, Nak? Masih pening?” tanya Bunda memegang kening Nuno.

Sebenarnya Nuno tidak pening, tetapi terpaksa dia mengangguk pelan agar tidak diminta Bunda membantu memasak. ”Ya sudah, kamu tidur saja. Nanti, Bunda mau ada tamu,” kata Bunda.

Nuno menggeliat, lalu membuka mata. Jam dinding menunjuk angka empat. Wah, sudah sore. Ketika membuka pintu kamar, hidungnya segera mencium aroma lezat. Sepertinya bau kue yang baru keluar dari oven. Hhmhhh....

Di dapur, Nuno melihat Bunda dan sedang berbincang dengan seorang laki-laki yang mengenakan celana jins dan kaus garis-garis. Nuno langsung mengenalinya.

 

”OOM JOSH! Kenapa pulang?” seru Nuno disambut tangan terbuka Oom Josh, adik bungsu Bunda. Nuno jarang bertemu karena Oom Josh bekerja di kapal pesiar yang sering membawanya berkeliling ke berbagai tempat di dunia.

”Wah, Nuno sudah besar. Kapan terakhir kali ketemu Oom Josh ya?” kata Oom Josh mengacak-acak rambut Nuno.

”Sudah lama… sekali. Oom bawa oleh-oleh apa?” tanya Nuno.

”Eeh, bangun-bangun langsung tanya oleh-oleh,” sergah Bunda.

Oom Josh tertawa. ”Ada di mobil. Tetapi sekarang Nuno mencicipi dulu brownies buatan Oom Josh. Ini baru saja matang,” kata Oom Josh menghampiri kue yang masih di dalam loyang. Ia mengiris sedikit, lalu memberikannya kepada Nuno.

”OOM JOSH yang bikin?” mata Nuno mengerjap karena rasa kue yang lezat.

Tetapi justru Bunda yang menjawab. ”Iya dong, tadi Bunda belajar dari Oom Josh. Oom kan bekerja sebagai koki, jadi masakannya lezat-lezat. Bunda belajar supaya nanti bisa bikin kue lezat buat Nuno.”

Nuno ingat ejekan Sigit. ”Eeemmh, Oom tidak malu memasak? Kan Oom laki-laki. Kata teman Nuno, memasak itu pekerjaan anak perempuan.”

”Ooh jadi itu yang bikin Nuno enggak mau bantu Bunda? Padahal memasak itu tidak mudah lho, butuh belajar juga,” Bunda langsung menukas.

”Wah temanmu bilang begitu? Padahal, bisa memasak itu asyik lho. Kita bisa makan enak, tetapi hemat uang. Kita juga bisa memilih bahan-bahan yang bagus. Bahkan, Oom bisa keliling dunia karena bisa memasak. Koki di hotel-hotel berbintang banyak laki-laki. Nuno pernah lihat acara masak di televisi? Kokinya tidak selalu perempuan, kan?” kata Oom.

Nuno mengangguk. ”Mereka terkenal karena pintar masak. Mereka pasti dapat banyak uang dari kepandaian memasak,” sambung Oom Josh.

Nuno manggut-manggut. ”Wah ia juga ya Oom.... Jadi Nuno enggak perlu malu karena membantu Bunda memasak?”

”Jelas tidak. Oh ya, hari ini Bunda belajar bikin brownies, besok Bunda mau belajar bikin piza kesukaanmu. Besok kan sekolah libur. Nuno mau bantu?” ujar Oom Josh.

Nuno membayangkan piza, makanan favorit yang selama ini hanya bisa dia nikmati di resto piza. Hmm... yummii! Dan yang penting, kalau nanti Sigit mengejek lagi, Nuno tidak akan malu atau marah. Nuno bahkan berniat untuk rajin membantu Bunda. Memasak, siapa takut?

Lis Dhaniati, Penulis Cerita Anak, Tinggal di Kabanjahe, Sumatera Utara

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau