Pengembang Puri Beta Pertahankan Lahan Jadi Pasar Modern

Kompas.com - 06/04/2010, 09:01 WIB

TANGERANG, KOMPAS.com -  PT Beta Goldland, pengembang Perumahan Puri Beta 2, Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang, bersikeras mempertahankan lahan komersial mereka seluas 1,5 hektar untuk dijadikan kawasan pasar modern, seperti konsep awal pembangunan.

Mereka akan memberikan lahan itu untuk pembangunan terminal terpadu asalkan Pemerintah Kota Tangerang melakukan kajian, termasuk studi analisis mengenai dampak lingkungan. Selain itu, Pemkot Tangerang juga harus menyosialisasikan rencana itu kepada penghuni perumahan itu.

”Sikap kami tetap konsisten dengan site plan, kawasan komersial itu menjadi pasar modern. Kalau Pemkot Tangerang bersikeras membangun terminal di kawasan perumahan kami, harus dipikirkan secara matang dampak yang akan ditimbulkan bagi penghuni perumahan kami,” kata General Manager PT Beta Goldland Suharso kepada Kompas, Senin (5/4).

Ia menanggapi unjuk rasa warga, Sabtu, yang menolak rencana pembangunan terminal bus antarkota antarprovinsi (AKAP) di kawasan perumahannya. Mereka mendatangi Kantor Pemasaran PT Beta Goldland, Puri Beta 1, dan menempelkan sejumlah poster berisi penolakan, (Kompas, 5/4). Namun, pada Senin siang, poster itu sudah dibersihkan petugas kantor tersebut.
 
Lima alternatif
Suharso mengatakan, rencana pembangunan terminal terpadu tipe A seluas 5 hektar tersebut baru sebatas wacana.

Sepengetahuan Suharso, ada lima lokasi alternatif untuk pembangunan terminal itu. Selain Puri Beta 2, empat lokasi alternatif lainnya adalah lahan di depan Ramayana Ciledug, Lapangan Sudimara Barat, Metro Permata, dan Terminal Lembang.

Pengamatan Kompas, terminal Lembang selama ini sudah menjadi terminal bus AKAP. Namun, tidak berkembang dan tidak dikelola dengan baik sehingga terkesan kumuh dan sepi.

Suharso mengakui, pihaknya pernah diajak bicara oleh Pemkot Tangerang terkait rencana pembangunan terminal itu. Namun, sampai saat ini belum ada penjelasan lanjutan tentang rencana itu.

Menurut Suharso, petugas dari Pemkot Tangerang pernah meninjau lokasi alternatif terminal di Puri Beta 2. Namun, saat itu, kata Suharso, pihaknya meminta agar Pemkot mempertimbangkan kembali rencana pembangunan terminal di kawasan perumahan itu. Selain akan mengubah site plan pembangunan kawasan itu, pembangunan terminal berpotensi menimbulkan protes warga.

Menurut Suharso, jika terminal dipaksakan tetap dibangun di lokasi itu, berarti akan menimbulkan dampak sosial, ekonomi, kesehatan, dan keamanan penghuni perumahan yang mendiami lahan seluas 66.328 meter persegi dari luas keseluruhan lahan Puri Beta 2, yaitu 226.563 meter persegi.

Mendesak
Ditemui di ruang kerjanya, Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Pemkot Tangerang Ahsan Annahar mengatakan, setelah penjaringan secara matang, ditetapkan tiga dari lima lokasi alternatif yang diunggulkan untuk terminal di Ciledug.

Ketiga lokasi pilihan itu adalah Puri Beta 2, lahan di depan Ramayana, dan Metro Permata.

Annahar mengatakan, Pembangunan Terminal Ciledug ini sangat mendesak untuk mengatasi kemacetan di Ciledug, Larangan, dan Karang Tengah.

”Soal lokasi mana yang akan dipilih, sejauh ini kami terus mengkajinya. Kami berharap secepatnya sudah bisa ditentukan lokasi mana yang paling layak dan strategis untuk jadi terminal,” kata Annahar.

Menurut Annahar, pembangunan Terminal Ciledug itu akan mencontoh Terminal Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

”Konsepnya bukan terminal tradisional, tetapi terminal modern sehingga tidak kumuh dan jorok. Kendaraan yang masuk terminal langsung keluar sehingga tidak bising dan polusi udara,” kata Annahar, yang menambahkan, jika lahan sudah dipilih, Pemkot siap membeli lahan milik warga dan swasta sesuai nilai jual obyek pajak. (Pingkan Elita Dundu/KOMPAS Cetak)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau