Guruh: Kongres Tak Sah

Kompas.com - 06/04/2010, 20:00 WIB

DENPASAR, KOMPAS.com — Guruh Soekarnoputra yang mengakui hanya meraih empat DPC PDI Perjuangan untuk menjadi ketua umum PDI Perjuangan 2010-2015 menilai Kongres III PDI Perjuangan tidak sah karena tidak melibatkan ranting-ranting.

Guruh menyebutkan, gugatan ini disampaikan di pengadilan negeri oleh pendukungnya dari Sumedang, Bandung, Jakarta Selatan, dan Langkat. "Saya belum berpikir ke sana," katanya, Selasa (6/4/2010) di Denpasar, terkait kemungkinan pelaksanaan kongres tandingan PDI Perjuangan.

Guruh minta PDI Perjuangan dibersihkan dari pihak yang dianggap sebagai oportunis dan hanya menjadi duri di dalam daging.

Secara terpisah, kader PDI Perjuangan, Dhia Prakasa Yudha, menilai sejumlah pihak seharusnya bisa menangkap isyarat bahwa di PDI Perjuangan tengah terjadi gejolak besar. "Misalnya dari foto yang ditampilkan Mega di sebelah anak kandungnya dari suami pertama, yakni Prananda Prabowo, di sebelahnya terdapat Puan Maharani dan Taufik Kiemas," katanya.

Adapun kasus hukum yang melibatkan Ketua Umum Banteng Muda Indonesia (BMI) dan mantan anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, Dudhie Makmun Murod, dalam kasus cek pelawat dari Miranda S Goeltom ikut berimbas pada partai berlambang banteng moncong putih itu.

Sejumlah nama yang dianggap terlibat kasus itu di antaranya Panda Nababan, Emir Moeis, dan Tjahjo Kumolo. Ketiga nama itu sudah dihadirkan dalam persidangan kasus korupsi itu di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Saat ditemui di arena kongres, Panda menyebutkan semua itu sudah selesai di persidangan. "Tidak pernah ada terima cek pelawat atau menyerahkan (ke Emir). Adanya nama saya dibawa-bawa itu hanya supaya hukumannya diringankan," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau