Jakmania Desak Perombakan PSSI

Kompas.com - 09/04/2010, 05:37 WIB

Jakarta, Kompas - Lebih dari 1.000 anggota Jakmania berdemonstrasi mengecam kepengurusan PSSI yang dinilai gagal memajukan sepak bola nasional. Jakmania mengajak semua suporter bersatu membenahi PSSI dan mengawal rekomendasi Kongres Sepak Bola Nasional.

Para demonstran berkostum oranye khas suporter Persija Jakarta itu memadati jalan di depan Kantor PSSI di kawasan Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Kamis (8/4). Mereka berorasi dan sebagian membawa poster berisi kecaman dan kritik atas kepengurusan PSSI dan kepemimpinan wasit.

Beberapa poster yang dibawa para demonstran berbunyi, ”Stop Mafia Pertandingan”, ”Juara ISL Sudah Dipesan”, ”Jadilah Komdis yang Benar”, dan ”Turunkan Nurdin Halid”.

Sekretaris Umum Jakmania Richard Achmad Supriyanto menilai PSSI telah gagal karena tidak mampu memberikan prestasi bagi sepak bola nasional. Oleh karena itu, kepengurusan PSSI harus dirombak supaya bisa segera dibenahi. ”Tidak perlu menunggu sampai 2011,” ujar Richard.

Ia pun mengajak semua suporter sepak bola untuk bersatu mendukung perubahan terhadap kepengurusan PSSI. ”Kita memerlukan perubahan supaya Indonesia kembali berada di atas pentas dunia sepak bola.”

Aktivis dari Gerakan Nasional untuk Reformasi PSSI (Garasi), Isfahani Ivan, mengatakan, suporter klub lain harus menyambut seruan Jakmania yang menghendaki reformasi di PSSI.

”Itu merupakan langkah yang pantas didukung karena menunjukkan kepedulian suporter kepada sepak bola Indonesia. Suporter harus bergerak. Sudah saatnya bersatu menjadi elemen yang bisa bersuara di PSSI,” kata Isfahani.

Kekecewaan suporter Persija mewakili masyarakat sepak bola yang frustrasi karena KSN di Malang tidak menghasilkan rekomendasi fundamental untuk melakukan perubahan di PSSI. ”Itu merupakan bentuk kekecewaan karena kongres Malang sama sekali tidak menghasilkan arah atau usaha perbaikan PSSI. Tidak ada evaluasi atas kegagalan PSSI atau kepengurusan Nurdin Halid selama ini,” kata Isfahani.

”Suporter harus bersatu untuk menyuarakan perubahan di PSSI,” tuturnya.

Di dalam pernyataan sikap Jakmania, mereka juga mengecam kepemimpinan wasit yang menghadiahi Persik Kediri penalti dan menyebabkan Persija kalah 1-2. Penalti itu dinilai tidak sah dan harus dilakukan penyelidikan terhadap wasit. Demikian juga hukuman kalah walk out 0-3 saat menjamu Persiwa Wamena yang diberikan PT Liga Indonesia dan Komisi Disiplin PSSI.

Mojokerto protes

Manajemen PSMP Mojokerto Putra memprotes keputusan PSSI meloloskan Persikabo Kabupaten Bogor ke babak delapan besar Divisi Utama dan menggagalkan peluang PSMP Mojokerto. Persikabo (Wilayah I) berada di urutan keempat dengan 32 poin. PSMP (Wilayah III) di posisi ketiga dengan 33 poin. Tim yang berhak lolos ke babak delapan besar adalah tim peringkat pertama dan kedua di ketiga wilayah serta dua tim peringkat ketiga terbaik.

”Bahkan di dalam aturan FIFA pun, kalau sanksi telah dibayar, pengurangan poin tetap diberlakukan. Dengan langkah ini, PSSI berarti melanggar aturannya sendiri,” ujar kuasa hukum PSMP, Adianto Mardijono, di Sidoarjo.

Direktur Teknik Pelita Jaya Karawang Rahim Kosasih, Kamis petang, juga memprotes kepemimpinan wasit saat laga di kandang Persik pada 7 April. Wasit Yandri dinilai tidak adil karena tidak memberikan penalti untuk Pelita Jaya pada menit ke-40 dan 53. (ANG/RAY/SIN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau