Para demonstran berkostum oranye khas suporter Persija Jakarta itu memadati jalan di depan Kantor PSSI di kawasan Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Kamis (8/4). Mereka berorasi dan sebagian membawa poster berisi kecaman dan kritik atas kepengurusan PSSI dan kepemimpinan wasit.
Beberapa poster yang dibawa para demonstran berbunyi, ”Stop Mafia Pertandingan”, ”Juara ISL Sudah Dipesan”, ”Jadilah Komdis yang Benar”, dan ”Turunkan Nurdin Halid”.
Sekretaris Umum Jakmania Richard Achmad Supriyanto menilai PSSI telah gagal karena tidak mampu memberikan prestasi bagi sepak bola nasional. Oleh karena itu, kepengurusan PSSI harus dirombak supaya bisa segera dibenahi. ”Tidak perlu menunggu sampai 2011,” ujar Richard.
Ia pun mengajak semua suporter sepak bola untuk bersatu mendukung perubahan terhadap kepengurusan PSSI. ”Kita memerlukan perubahan supaya Indonesia kembali berada di atas pentas dunia sepak bola.”
Aktivis dari Gerakan Nasional untuk Reformasi PSSI (Garasi), Isfahani Ivan, mengatakan, suporter klub lain harus menyambut seruan Jakmania yang menghendaki reformasi di PSSI.
”Itu merupakan langkah yang pantas didukung karena menunjukkan kepedulian suporter kepada sepak bola Indonesia. Suporter harus bergerak. Sudah saatnya bersatu menjadi elemen yang bisa bersuara di PSSI,” kata Isfahani.
Kekecewaan suporter Persija mewakili masyarakat sepak bola yang frustrasi karena KSN di Malang tidak menghasilkan rekomendasi fundamental untuk melakukan perubahan di PSSI. ”Itu merupakan bentuk kekecewaan karena kongres Malang sama sekali tidak menghasilkan arah atau usaha perbaikan PSSI. Tidak ada evaluasi atas kegagalan PSSI atau kepengurusan Nurdin Halid selama ini,” kata Isfahani.
”Suporter harus bersatu untuk menyuarakan perubahan di PSSI,” tuturnya.
Di dalam pernyataan sikap Jakmania, mereka juga mengecam kepemimpinan wasit yang menghadiahi Persik Kediri penalti dan menyebabkan Persija kalah 1-2. Penalti itu dinilai tidak sah dan harus dilakukan penyelidikan terhadap wasit. Demikian juga hukuman kalah walk out 0-3 saat menjamu Persiwa Wamena yang diberikan PT Liga Indonesia dan Komisi Disiplin PSSI.
Manajemen PSMP Mojokerto Putra memprotes keputusan PSSI meloloskan Persikabo Kabupaten Bogor ke babak delapan besar Divisi Utama dan menggagalkan peluang PSMP Mojokerto. Persikabo (Wilayah I) berada di urutan keempat dengan 32 poin. PSMP (Wilayah III) di posisi ketiga dengan 33 poin. Tim yang berhak lolos ke babak delapan besar adalah tim peringkat pertama dan kedua di ketiga wilayah serta dua tim peringkat ketiga terbaik.
”Bahkan di dalam aturan FIFA pun, kalau sanksi telah dibayar, pengurangan poin tetap diberlakukan. Dengan langkah ini, PSSI berarti melanggar aturannya sendiri,” ujar kuasa hukum PSMP, Adianto Mardijono, di Sidoarjo.
Direktur Teknik Pelita Jaya Karawang Rahim Kosasih, Kamis petang, juga memprotes kepemimpinan wasit saat laga di kandang Persik pada 7 April. Wasit Yandri dinilai tidak adil karena tidak memberikan penalti untuk Pelita Jaya pada menit ke-40 dan 53.