Multilateral

START 2010 dan Nonproliferasi Nuklir

Kompas.com - 12/04/2010, 04:04 WIB

Perjanjian baru pengurangan senjata nuklir yang ditandatangani Presiden AS Barack Obama dan Presiden Rusia Dmitri Medvedev, pekan lalu, tentu disambut baik berbagai kalangan. Akan tetapi, apakah kesepakatan baru itu efektif untuk menghentikan penyebarluasan senjata nuklir, hal itu masih diragukan.

Ada dua hal yang tidak sangat terkait antara perjanjian pengurangan hulu ledak nuklir baru itu (Strategic Arms Reduction Treaty/START) dengan proliferasi senjata nuklir. Perjanjian START itu berurusan dengan stok senjata nuklir yang diproduksi saat Perang Dingin. Adapun proliferasi senjata nuklir adalah fenomena saat ini, produksi senjata nuklir pasca-Perang Dingin oleh beberapa negara, baik yang mengakuinya secara terbuka maupun yang terus merahasiakannya seperti Israel.

Kesepakatan AS dan Rusia untuk mengurangi stok hulu ledak senjata nuklir strategisnya menjadi 1.550 buah, memang mengirimkan pesan kedua negara adidaya itu pun tidak ingin larut dalam perlombaan senjata nuklir. Bahkan Presiden Obama beberapa kali dengan tegas mengungkapkan tekadnya untuk mewujudkan dunia yang tanpa senjata nuklir.

”Sekali lagi saya tegaskan tekad saya untuk mewujudkan dunia tanpa senjata nuklir. Itu memang tujuan jangka panjang, yang mungkin belum akan tercapai hingga akhir hidup saya,” papar Obama ketika berpidato seusai penandatanganan START 2010 di Praha, Ceko, sambil menekankan dunia yang tanpa senjata nuklir akan lebih baik bagi seluruh umat manusia.

Sayangnya, sistem internasional terkait pengembangan dan produksi senjata nuklir kini memang sangat pincang. Meskipun banyak negara telah menjadi bagian dari Traktat Nonproliferasi Nuklir (NPT), ada sejumlah negara yang terang-terangan tidak menjadi bagian traktat tersebut dan kemudian bisa memproduksi senjata nuklir dengan cukup leluasa.

India, Pakistan, Korea Utara dan Israel, negara-negara yang diketahui telah memiliki atau memproklamasikan memiliki senjata nuklir, bukanlah bagian dari NPT. Lantas bagaimana dunia bisa ”mengikat” mereka untuk tidak dengan gampang memproduksi senjata nuklir?

Di sisi lain, AS sebagai negara adidaya nuklir juga cenderung bersikap tidak konsisten terhadap proliferasi senjata nuklir. Terhadap Israel yang memang merupakan sekutu paling dekatnya, AS bersikap pura-pura tidak tahu dan membiarkan saja.

Sementara terhadap Iran yang belum terbukti tengah mengembangkan senjata nuklir, AS dan para sekutunya memukuli habis-habisan. Pantaslah bila ketua Parlemen Iran Ali Larijani menegaskan, kebijakan nuklir AS sangat tidak konsisten.

”Di satu sisi dia tidak akan membiarkan satu negara menggunakan senjata nuklir, tetapi dia sendiri mengatakan AS hanya akan menggunakan senjata nuklir dalam keadaan darurat. Pernyataan seperti itu menunjukkan hegemoni dan arogansi AS,” tegas Larijani.

Aturan baru

Bagi AS dan Rusia, penandatanganan START 2010 menyimbolkan membaiknya kembali hubungan kedua negara adidaya itu. Hal itu menjadi modal penting bagi digairahkannya kembali forum review tahunan NPT yang akan digelar di New York pada Mei 2010.

Masalahnya, fakta bahwa tidak semua negara diikat NPT adalah kelemahan dari traktat itu sendiri. Oleh karena itulah, perlu ada sebuah aturan internasional baru yang secara otomatis mengikat semua negara di dunia tanpa kecuali.

Memang ada upaya untuk mengikat India dan Pakistan melalui pelarangan keseluruhan uji coba nuklir atau Comprehensive Test Ban Treaty (CTBT). Asumsinya, dengan pelarangan uji coba, tidak ada negara yang bisa mengembangkan senjata nuklir.

Robert J Einhorn, penasihat khusus untuk nonproliferasi dan kontrol persenjataan, Departemen Luar Negeri AS, dikutip Dawn, mengatakan, AS ingin India, Pakistan, dan China meratifikasi CTBT, setelah traktat itu disetujui Senat AS.

Akan tetapi, tanpa sebuah aturan internasional yang mengikat, negara nuklir India, Pakistan, Israel, Korea Utara atau negara mana pun yang kemungkinan bisa memiliki senjata nuklir di kemudian hari bisa dengan mudah menolak untuk diikat CTBT.

Masalahnya, apakah AS sungguh ingin mewujudkan dunia tanpa senjata nuklir. Di dalam negeri AS sendiri, pernyataan Obama itu ditentang keras karena dinilai akan menurunkan daya tangkis AS dan membahayakan keamanan nasional AS.

Jadi, layakkah AS meminta negara lain tidak mengembangkan senjata nuklir?

(Rakaryan Sukarjaputra)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau