Oleh Maria Serenade Sinurat & Aloysius B Kurniawan
Jika jalanan diibaratkan hutan, sepeda adalah buruan yang terus dimangsa dan diimpit di tengah belantara perkotaan. Bagaimana tidak, menilik perkembangan Kota Surabaya, nyaris belum ada ruang bagi pengayuh sepeda.
Berdasarkan survei Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, setiap tahun volume pertumbuhan kendaraan bermotor di Kota Pahlawan mencapai 10 persen hingga 12 persen. Padahal, pertumbuhan jalan nyaris tidak ada.
Dengan kondisi ini, lalu lintas Surabaya pada 2013 diperkirakan macet total. Artinya, ruang jalan untuk para pengendara sepeda juga kian sempit. Padahal, selama ini celah sempit di antara mobil dan sepeda motor adalah ruang terakhir yang bisa direbut para pengendara sepeda.
Sebelum ramalan 2013 itu terjadi, banyak komunitas sepeda terus mendesak agar jalur sepeda segera direalisasikan. Bike to Work (B2W) Chapter Surabaya, misalnya, adalah salah satu kelompok yang getol mengampanyekan pentingnya bersepeda untuk segala aktivitas.
Sejak 2007, komunitas B2W mengagendakan pentingnya jalur khusus sepeda di Surabaya. Hasilnya masih nihil meskipun Pemerintah Kota Surabaya pernah berjanji untuk merealisasikannya. "Kami bermimpi yang sederhana saja, setidaknya ada tempat parkir sepeda di tempat publik," ujar person in chief B2W Chapter Surabaya, Ahmad Basori.
Memang belum semua perkantoran dan taman menyediakan tempat parkir sepeda. Namun, beberapa pusat perbelanjaan mulai menyediakan lahan parkir sepeda dengan tarif hanya Rp 100. Lobi-lobi seperti inilah yang terus digiatkan B2W agar sepeda juga dihargai sebagai sebuah pilihan alat transportasi.
Lingkungan bersama
Sokongan fasilitas yang nyaman ini akhirnya bertujuan mengajak masyarakat kembali bersepeda. B2W, yang awalnya mengkhususkan diri untuk pekerja bersepeda, kini terbuka untuk kegiatan bersepeda apa pun.
"Kami ingin sepeda digunakan untuk segala aktivitas, seperti ke pasar, sekolah, mal, dan kantor. Semuanya bisa dicapai dengan sepeda," tutur Ahmad.
Kendala jarak kini tidak bisa lagi menjadi alasan untuk tidak bersepeda. Kehadiran sepeda lipat, misalnya, memudahkan penggunanya untuk memasukkan sepeda ke dalam kendaraan transportasi umum. "Prinsipnya, kita tetap mengurangi penggunaan transportasi pribadi dan juga bisa bersepeda," ucap Ahmad.
Aida Setyawan, yang berkantor di kawasan Jalan Basuki Rahmat, misalnya, mulai terbiasa bersepeda pergi-pulang ke kantornya. Dia memang harus berangkat sangat pagi dan pulang cukup larut untuk menghindari asap kendaraan bermotor. Namun setelah dijalani tiga tahun, hal ini menjadi ritual yang menyenangkan sekaligus menyehatkan. "Saya bisa bersantai, berkomunikasi dengan para pesepeda di jalan, dan berhemat," katanya.
Kesadaran untuk menggunakan sepeda pada hakikatnya adalah kesadaran untuk berbuat sesuatu bagi lingkungan yang semakin polutif dan individual. Kultur bersepeda mencairkan kembali kekakuan hubungan di perkotaan sekaligus pilihan ekologis yang menguntungkan semua pihak.
Karena itu, sudah saatnya Pemkot Surabaya mendukung dengan menyediakan infrastruktur bagi pengguna sepeda demi Surabaya yang lebih hijau dan ramah. Artinya, pengendara sepeda tidak cuma merdeka di jalan ketika ada kegiatan sepeda santai seperti Kompas Green Fun Bike, yang digelar pada Minggu (11/4). Sepeda juga harus sejajar dengan moda transportasi lain. Semoga terwujud.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang