Meriah seremoninya. Alun-alun Utara yang kerap dipakai latihan dua kuda Keraton Ngayogyakarta menjadi tempat peluncuran gerakan Sego Segawe (Sepeda kanggo Sekolah lan Nyambut Gawe), 13 Oktober 2008.
Tak hanya Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto dan Ketua DPRD Kota Yogyakarta Arifin Noor Hartanto yang datang sebagai pemrakarsa gerakan. Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X pun hadir. Seusai acara, Herry bersepeda menuju kantornya.
Seremoni penting terutama untuk diingat semangat cita awal gerakan. Oleh karena itu, setelah dua setengah tahun gerakan, evaluasi patut dilakukan. Apa yang berubah setelah dicanangkan? Tak sedikit memang. Di ruas jalan Yogyakarta, Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta memberi ruang bagi pesepeda. Sebuah langkah besar karena tak mudah, bagi Jakarta sekalipun. Jalur sepeda lalu dibuat meskipun "semu".
Oleh karena "semu", jalur di sisi paling kiri selebar sekitar 2 meter itu sering kali dipakai parkir kendaraan yang kekurangan lahan. Tak jarang, mobil!
Pesepeda juga diberi rambu jalan alternatif menghindari kepadatan. Namun, karena tuntunan rambu kurang menuntun, pesepeda yang belum hafal arah mata angin kerap tersesat. Keramahan warga kerap menyelamatkan.
Pemerintah Kota Yogyakarta yang memprakarsai Sego Segawe sadar, tak mudah menumbuhkan atau tepatnya mengembalikan kebiasaan warganya menggunakan sepeda untuk transportasi. Sejumlah dukungan diberikan. Asuransi bagi anak sekolah dan pengantarnya yang mengalami kecelakaan diberikan. Sebuah jaminan untuk kekhawatiran di tengah kebrutalan pengguna jalan.
Awal 2010, fasilitas bagi pesepeda ditambah. Ruang tunggu sepeda dibuat di persimpangan Kantor Pos Besar, Gondomanan, dan Pasar Sentul. Empat persimpangan lain segera menyusul, yaitu perempatan Wirobrajan, Gramedia, Galeria, dan Tugu.
Sebagai pemrakarsa Sego Segawe, setiap Jumat, kendaraan bermotor dilarang melintas di kompleks Balaikota. Pegawai yang jarak rumahnya di bawah 5 kilometer wajib bersepeda, diantar, atau naik kendaraan umum. Pegawai yang jarak rumahnya lebih dari 5 kilometer tak wajib bersepeda. "Namun, ketika masuk kompleks Balaikota, kendaraan bermotor tak boleh masuk. Untuk tamu berlaku sama," ujar staf Humas Pemkot Yogyakarta, Ismawati Retno, Selasa (13/4).
Menurut dia, tiap Jumat, ratusan pegawai bersepeda ke kantor. Herry Zudianto pun rutin bersepeda setiap Jumat dari rumahnya di Umbulharjo. "Karena minat tinggi, banyak pegawai membuat kelompok sepeda untuk kegiatan di luar Jumat," ujar Ismawati, yang juga aktif bersepeda.
Sekadar hobi
Sego Segawe berdampak pada penjualan sepeda. Belasan toko sepeda yang lesu kini penjualannya ramai lagi. Setidaknya tujuh toko sepeda profesional melayani penjualan dan perbaikan. "Permintaan meningkat sejak 2009. Tahun 2010, permintaan lebih tinggi lagi," ujar Supervisor Rodalink Yogyakarta Putriani.
Sebagai pengguna sepeda, Putriani dan Ismawati terbantu dengan sejumlah kebijakan bagi pesepeda. Satu kendala, keamanan bersepeda. "Bersepeda di jalan-jalan utama kerap mengerikan. Pengguna jalan lain kerap tak mau berbagi jalan. Tenggang rasa untuk pesepeda nyaris tak ada," ujar Ismawati.
Terkait masalah keamanan, sepeda sebagai alat transportasi harian minim dijumpai di Yogyakarta yang seperti dikepung sepeda motor.
Putriani melihat, peningkatan permintaan sepeda di Yogyakarta lebih untuk hobi dibandingkan transportasi. Tumbuhnya klub-klub sepeda adalah gambarannya.
Meskipun Yogyakarta sangat maju memberi fasilitas bagi pesepeda, gangguan keamanan perlu diperhatikan. Minimnya tenggang rasa di antara pengguna jalan bisa ditumbuhkan dengan penerapan hari bebas kendaraan (car free day), seperti rutin di Jakarta.
Masih terkait keamanan, tempat umum seperti perkantoran dan pusat belanja perlu total mendukung Sego Segawe dengan menyediakan tempat parkir sepeda. Jakarta memulai di Mal FX Lifestyle X'nter dan sejumlah tempat lain. Selama ini, pesepeda dimarjinalkan meskipun tetap bayar parkir.
Oleh karena tiada tempat bagi sepeda, di Hotel Santika, misalnya, sepeda diikat di tiang tong sampah. Di Galeria, sepeda harus parkir di ujung gedung. Untuk masuk Galeria, pesepeda harus jalan memutari gedung. Di tempat lain kurang lebih sama.
Tanpa kebijakan menyeluruh, gerakan Sego Segawe yang bercita- cita mulia hanya seremoni saja. Pesepeda mengingat betul gerakan itu dan merayakannya, seperti ajang sepeda gembira yang ironisnya berhadiah sepeda motor. Setelah seremoni, sepeda yang banyak dimiliki warga pun disimpan di gudang. Debu dan kotor.
Tentu bukan untuk beragam seremoni saja ketika Sego Segawe dijadikan sebuah gerakan. (WISNU NUGROHO)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang