BNP2TKI Dorong Mahasiswa Aceh Kerja di AS dan Eropa

Kompas.com - 15/04/2010, 17:15 WIB

BANDA ACEH, KOMPAS.com - Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Moh Jumhur Hidayat justru mendorong para mahasiswa mempersiapkan diri mengisi kesempatan kerja yang makin terbuka luas di luar negeri.

"Amerika Serikat mengundang 160.000 tenaga kerja per tahun, sementara Eropa butuh sampai 200.000 per tahun. Jika tidak dipenuhi, negara mereka akan ambruk," kata Jumhur saat memberi kuliah umum di Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala di Banda Aceh, Rabu (14/4/2010).

Ia mengatakan, saat ini angka orang usia produktif di negara-negara maju semakin merosot sementara angka usia tidak produktif (manula) meroket. Bahkan pada 2050 diprediksi satu orang usia produktif harus menopang satu orang tak produktif.

"Yang ideal adalah enam orang produktif menopang satu orang tak produktif," ujarnya. ia menambahkan, kondisi demikian merupakan berkah bagi negara-negara berkembang yang memiliki banyak pengangguran.

Data 2006 dan 2007, TKI di luar negeri mengirimkan uang total Rp100-140 triliun per tahun, padahal jumlah TKI hanya 5-6 juta orang atau dua persen dari jumlah penduduk. "Bandingkan dengan Filipina yang tenaga kerja luar negerinya sampai 10 persen dari jumlah penduduk. Itu pun yang dikirim tenaga trampil seperti perawat, sementara hampir 100 persen yang dikirim Indonesia adalah pembantu rumah tangga," katanya.

Filipina mengirim puluhan ribu perawat ke Arab Saudi dengan gaji Rp 18-25 juta per bulan hanya karena mereka lancar berbahasa Inggris, meski orang Saudi sebenarnya merasa lebih nyaman jika perawatnya seagama.

Sementara itu, Kepala Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Aceh Chaidir Djafar menyampaikan, dalam dua tahun terakhir, pihaknya mempersiapkan penempatan dan perlindungan TKI secara legal di Aceh, melalui kegiatan sosialisasi dan penguatan kelembagaan.

Ia menargetkan pada 2010 ini, BP3TKI Aceh akan mulai menempatkan 600-1.000 TKI sektor formal ke berbagai negara di luar negeri, khususnya Malaysia dan negara-negara Timur Tengah.

"Sebelumnya mereka berangkat lewat Medan, sekarang sudah ada 180 calon TKI yang siap diberangkatkan dari Aceh sendiri," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau