JAKARTA, KOMPAS.com - Pendekatan-pendekatan komunikatif di antara para akademisi akan menjadi langkah Institut Teknologi Bandung (ITB) ke depan sebagai pelajaran dari kasus plagiat yang dilakukan oleh MZ.
Rektor ITB Prof Akhmaloka mengatakan, kasus plagiat yang dilakukan oleh MZ, mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) menjadi pelajaran bagi ITB agar tidak lagi "kecolongan" dalam meloloskan karya-karya ilmiah mahasiswanya.
"Kami akui pembimbingnya lalai atau malah dibohongi, karena dalam hal ini tugas MZ sebagai mahasiswa S-3 itu seharusnya memang dikoreksi oleh pembinanya, cuma mereka sebagai pembina tidak tahu kalau makalah itu sudah diterbitkan orang lain. Mereka kecolongan, tidak komunikatif," ujar Akhmaloka kepada Kompas.com di Jakarta, (16/5/2010).
Akhmaloka menambahkan, pihaknya akan semakin aware, sehingga ke depan semua profil akademis dosen dan calon dosen harus dilihat lagi dengan seksama. Hal itu akan dilakukan ITB melaui program-program pendekatan ilmiah terhadap para akademisinya, termasuk mahasiswa.
"Terutama menekankan soal etika berkomunikasi secara ilmiah dan menulis artikel ilmiah. Program semacam share ini kerap kami lakukan di awal tahun, tetapi dengan kasus ini akan dilakukan lebih sering lagi, mungkin tiga bulan sekali," ujar Akhmaloka.
Sementara lewat pendekatan lebih teknis, kata Akhmaloka, ITB sedang mencarikan software khusus sebagai alat pendeteksi plagiasi di kalangan akademisinya.
"Kita sedang mencari software yang katakanlah harganya murah dan yang bisa open source, sebab yang ada sekarang ini mahal, kalau tidak salah harganya Rp 350 juta," tambahnya.
Diberitakan sebelumnya di Kompas.com, ITB akhirnya mengakui kasus plagiat yang dilakukan leh MZ, mahasiswa program studi doktor dari Sekolah Tinggi Elektronika dan Informatika, yang dilakukannya saat mengikuti the 2008 Institute of Electrical and Electronics Engineers Conference on Cybernetics and Intelligent Systems di Chengdu, Cina. ITB baru mengetahui
hal tersebut setelah MZ meraih gelar Doktor akhir 2009.