Semarang Belum Perlu Bangun Apartemen

Kompas.com - 16/04/2010, 19:18 WIB

SEMARANG, KOMPAS.com  - Peneliti perkotaan dari Universitas Diponegoro Semarang, P.M. Brotosunaryo, mengatakan Kota Semarang belum perlu membangun banyak apartemen, seperti kota-kota besar lain di Indonesia.

"Pembangunan apartemen besar dan bertingkat tinggi di Kota Semarang tidak mungkin dilakukan waktu dekat ini," katanya usai menyampaikan disertasi doktoralnya di Universitas Diponegoro Semarang, Jumat.

Menurut dia, pembangunan apartemen secara besar-besaran baru dilakukan jika luasan lahan tempat tinggal di suatu wilayah sudah semakin sempit sehingga luasan lahan yang ada akan difungsikan semaksimal mungkin.

"Apabila kondisi suatu wilayah sudah seperti itu, maka para investor yang akan melirik untuk membuat bangunan tempat tinggal dengan sistem vertikal dan bertingkat, seperti apartemen atau kondominium," katanya.

Hal itu terjadi, kata dia, karena dengan kondisi seperti itu harga lahan di wilayah tersebut akan semakin melambung tinggi, misalnya harga tanah sudah mencapai lebih dari Rp25 juta per meter persegi.

"Kalau untuk Kota Semarang harga tanah per meter perseginya masih terhitung murah sehingga para investor masih berminat untuk membangun permukiman dengan sistem horizontal, seperti perumahan," katanya.

Namun, kata dia, kalau harga tanah sudah mulai membengkak, para investor tidak akan mau rugi dengan membangun permukiman secara horizontal, mereka pasti memilih konsep vertikal atau bangunan bertingkat.

"Misal harga tanah di suatu wilayah sudah dipatok Rp25 juta per meter persegi, pembangunan permukiman secara horizontal pasti memakan banyak biaya dan tidak ekonomis," kata pengajar Fakultas Teknik Undip itu.

Oleh karena itu, kata dia, konsep pembangunan permukiman pasti akan berlangsung secara vertikal, mengingat lahan yang tersedia sudah sangat terbatas dan mengakibatkan harga tanah melambung tinggi.

"Apartemen yang dibangun pun tentunya memiliki tingkat sangat tinggi, misalnya, hingga 34 lantai seperti yang saya temukan di pusat Kota Jakarta. Harga lantai yang semakin atas pasti lebih mahal," katanya.

Ia menjelaskan bahwa harga hunian di lantai apartemen yang semakin atas lebih mahal sebab menawarkan privasi lebih, pemandangan yang lebih menarik, dan berbagai fasilitas yang tidak akan didapatkan di lantai bawah.

Selain itu, kata Brotosunaryo yang menyampaikan disertasi berjudul "Nilai Vertikal Ruang Perkotaan Kondominium/Apartemen di Pusat Kota Jakarta", pembangunan apartemen juga dipengaruhi oleh letak bandara.

"Kalau di Kota Semarang, pembangunan gedung bertingkat, termasuk apartemen tidak mungkin melebihi ketentuan ketinggian karena letak Bandara Ahmad Yani yang cukup dekat dengan pusat kota," katanya.

Akan tetapi, kata Brotosunaryo, pembangunan apartemen juga memiliki dampak negatif, di antaranya sosialisasi yang kurang antara penghuninya dengan masyarakat sekitar sehingga memunculkan sikap eksklusif. (Sumber: Antara)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau