SEMARANG, KOMPAS.com - Peneliti perkotaan dari Universitas Diponegoro Semarang, P.M. Brotosunaryo, mengatakan Kota Semarang belum perlu membangun banyak apartemen, seperti kota-kota besar lain di Indonesia.
"Pembangunan apartemen besar dan bertingkat tinggi di Kota Semarang tidak mungkin dilakukan waktu dekat ini," katanya usai menyampaikan disertasi doktoralnya di Universitas Diponegoro Semarang, Jumat.
Menurut dia, pembangunan apartemen secara besar-besaran baru dilakukan jika luasan lahan tempat tinggal di suatu wilayah sudah semakin sempit sehingga luasan lahan yang ada akan difungsikan semaksimal mungkin.
"Apabila kondisi suatu wilayah sudah seperti itu, maka para investor yang akan melirik untuk membuat bangunan tempat tinggal dengan sistem vertikal dan bertingkat, seperti apartemen atau kondominium," katanya.
Hal itu terjadi, kata dia, karena dengan kondisi seperti itu harga lahan di wilayah tersebut akan semakin melambung tinggi, misalnya harga tanah sudah mencapai lebih dari Rp25 juta per meter persegi.
"Kalau untuk Kota Semarang harga tanah per meter perseginya masih terhitung murah sehingga para investor masih berminat untuk membangun permukiman dengan sistem horizontal, seperti perumahan," katanya.
Namun, kata dia, kalau harga tanah sudah mulai membengkak, para investor tidak akan mau rugi dengan membangun permukiman secara horizontal, mereka pasti memilih konsep vertikal atau bangunan bertingkat.
"Misal harga tanah di suatu wilayah sudah dipatok Rp25 juta per meter persegi, pembangunan permukiman secara horizontal pasti memakan banyak biaya dan tidak ekonomis," kata pengajar Fakultas Teknik Undip itu.
Oleh karena itu, kata dia, konsep pembangunan permukiman pasti akan berlangsung secara vertikal, mengingat lahan yang tersedia sudah sangat terbatas dan mengakibatkan harga tanah melambung tinggi.
"Apartemen yang dibangun pun tentunya memiliki tingkat sangat tinggi, misalnya, hingga 34 lantai seperti yang saya temukan di pusat Kota Jakarta. Harga lantai yang semakin atas pasti lebih mahal," katanya.
Ia menjelaskan bahwa harga hunian di lantai apartemen yang semakin atas lebih mahal sebab menawarkan privasi lebih, pemandangan yang lebih menarik, dan berbagai fasilitas yang tidak akan didapatkan di lantai bawah.
Selain itu, kata Brotosunaryo yang menyampaikan disertasi berjudul "Nilai Vertikal Ruang Perkotaan Kondominium/Apartemen di Pusat Kota Jakarta", pembangunan apartemen juga dipengaruhi oleh letak bandara.
"Kalau di Kota Semarang, pembangunan gedung bertingkat, termasuk apartemen tidak mungkin melebihi ketentuan ketinggian karena letak Bandara Ahmad Yani yang cukup dekat dengan pusat kota," katanya.
Akan tetapi, kata Brotosunaryo, pembangunan apartemen juga memiliki dampak negatif, di antaranya sosialisasi yang kurang antara penghuninya dengan masyarakat sekitar sehingga memunculkan sikap eksklusif. (Sumber: Antara)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang