BANJARMASIN, KOMPAS.com — Di tanah kelahirannya sendiri, Sekretaris Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum Denny Indrayana menemukan banyak ironi. Salah satunya, ketika ia sedang berbicara dalam seminar nasional perlindungan hutan dan investasi di Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Sabtu (17/4/2010), listrik justru padam 15 menit.
"Ini adalah contoh konkret bagaimana ironi terjadi. Di daerah kelahiran saya sendiri. Daerah yang kaya batu bara, yang mayoritas batu baranya diekspor ke luar negeri melahirkan banyak devisa, tapi sejak beberapa tahun terakhir justru lampu (sering) mati," katanya.
Denny, yang sempat mengusulkan agar diskusi dipindah ke luar ruangan karena di dalam ruangan suasananya gelap, pun melanjutkan bahwa semua ini terjadi salah satunya karena ada mafia pertambangan.
"Sederhana sekali masalahnya, kekayaan alam daerah, kekayaan batu bara kita dieksploitasi tanpa bermanfaat bagi Kalsel dan secara umum di Indonesia. Ironi semacam ini banyak terjadi di berbagai daerah dengan persoalan yang hampir sama," katanya.
Karena itu, Denny meminta semua pihak terus melakukan upaya pembersihan terhadap mafia tambang. Menurutnya, jika banyak batu bara tetapi listrik sering mati maka ada yang salah. Dan, kesalahan itu bisa diurai dengan berbagai macam cara. Salah satunya melihat kuasa pertambangan batu bara yang tumpang tindih.
"Jika Anda pergi dari Banjarmasin ke Pulau Laut, Tanah Bumbu, Anda bisa menangis karena banyak kubangan sudah menjadi danau akibat eksploitasi dan penambangan batu bara," ujarnya.
Denny pun menegaskan bahwa Satgas akan melakukan tindakan seperti yang diperintahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk membersihkan semuanya, termasuk mafia tambang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang