Ironi Denny Indrayana dan Listrik Mati

Kompas.com - 17/04/2010, 14:44 WIB

BANJARMASIN, KOMPAS.com — Di tanah kelahirannya sendiri, Sekretaris Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum Denny Indrayana menemukan banyak ironi. Salah satunya, ketika ia sedang berbicara dalam seminar nasional perlindungan hutan dan investasi di Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Sabtu (17/4/2010), listrik justru padam 15 menit.

"Ini adalah contoh konkret bagaimana ironi terjadi. Di daerah kelahiran saya sendiri. Daerah yang kaya batu bara, yang mayoritas batu baranya diekspor ke luar negeri melahirkan banyak devisa, tapi sejak beberapa tahun terakhir justru lampu (sering) mati," katanya.

Denny, yang sempat mengusulkan agar diskusi dipindah ke luar ruangan karena di dalam ruangan suasananya gelap, pun melanjutkan bahwa semua ini terjadi salah satunya karena ada mafia pertambangan.

"Sederhana sekali masalahnya, kekayaan alam daerah, kekayaan batu bara kita dieksploitasi tanpa bermanfaat bagi Kalsel dan secara umum di Indonesia. Ironi semacam ini banyak terjadi di berbagai daerah dengan persoalan yang hampir sama," katanya.

Karena itu, Denny meminta semua pihak terus melakukan upaya pembersihan terhadap mafia tambang. Menurutnya, jika banyak batu bara tetapi listrik sering mati maka ada yang salah. Dan, kesalahan itu bisa diurai dengan berbagai macam cara. Salah satunya melihat kuasa pertambangan batu bara yang tumpang tindih.

"Jika Anda pergi dari Banjarmasin ke Pulau Laut, Tanah Bumbu, Anda bisa menangis karena banyak kubangan sudah menjadi danau akibat eksploitasi dan penambangan batu bara," ujarnya.

Denny pun menegaskan bahwa Satgas akan melakukan tindakan seperti yang diperintahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk membersihkan semuanya, termasuk mafia tambang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau