”Kami masih menunggu keputusan PSSI. Yang kami minta, PSSI harus adil. Jika nilai kami dikurangi tiga poin, Persisam juga harus dikurangi poinnya,” kata Mas’an Djadjuli, Manajer Persikabo, saat dihubungi lewat telepon, Jumat (23/4).
Ia menyinggung Persisam yang hingga kini belum mendapat hukuman pengurangan tiga poin terkait kasus pemutusan kontrak Pelatih Vata Matanu Garcia pada musim 2007. Seperti dialami Persikabo saat ini, FIFA meminta PSSI mengurangi tiga poin Persisam yang hingga sekarang belum dijalankan PSSI.
Persisam saat ini menempati peringkat ke-16, tiga urutan terbawah atau zona degradasi Liga Super dengan nilai 31 dari 28 laga (menang 8 kali, seri 7 kali, dan kalah 13 kali). Dengan pengurangan nilai, posisi klub itu semakin terancam degradasi.
Mas’an menyebutkan, kasus pemutusan kontrak Ndjee Bakena Noah (Kamerun) itu terjadi pada kepengurusan musim lalu. ”Kami seperti terkena getah dari pengurus musim lalu. Sambil menunggu keputusan, kami hanya minta PSSI adil,” katanya.
Kasus Persikabo bermula dari diputusnya kontrak Bakena secara sepihak pada 2008 tanpa kompensasi. Pemain Kamerun itu melaporkan kasus ini kepada FIFA, yang kemudian memutuskan Persikabo harus membayar Rp 330,7 juta kepada Bakena plus denda 6.000 dollar AS. Selain itu, nilai Persikabo dalam kompetisi Divisi Utama juga harus dikurangi tiga poin.
”Kami sudah melunasi pembayaran beserta denda FIFA melalui PSSI,” kata Mas’an.
PSSI semula telah mengurangi tiga poin Persikabo, tetapi belakangan menganulir pengurangan poin itu. Tanpa pengurangan poin, Persikabo dapat tampil di babak delapan besar Divisi Utama dan berpeluang promosi ke kompetisi Liga Super.
Setelah pengurangan poin dianulir PSSI, Persikabo berada peringkat ketiga klasemen Grup 1 dengan 35 poin dan menjadi dua klub peringkat ketiga terbaik untuk mendampingi Semen Padang, Persiba Bantul, Persiram Raja Ampat, Persipasi Bekasi, Persidafon Dafonsoro, Persibo Bojonegoro, dan Deltras Sidoarjo lolos ke babak delapan besar.
Jika nilai dikurangi tiga poin, Persikabo tidak bisa lolos ke delapan besar dan digantikan PS Mojokerto Putra (peringkat ketiga Grup 3 dengan 33 poin).
Namun, sikap plin-plan PSSI itu didengar FIFA yang mengancam bakal mengucilkan sepak bola Indonesia dari seluruh kompetisi FIFA jika tidak mengurangi poin Persikabo. Menurut CEO PT Liga Indonesia Joko Driyono, masalah ini masih dibahas antara pengurus PSSI, PT Liga Indonesia, dan Komite Legal PSSI.
Yang pasti, kasus Persikabo ini telah membuat babak delapan besar molor dari jadwal 26 April menjadi 18 Mei sehingga berdampak membengkaknya ongkos pengeluaran klub. ”Sebetulnya apa yang ditunggu PSSI, surat FIFA kan sudah jelas-jelas bisa jadi acuan,” kata Satria Wirawan, Manajer PS Mojokerto Putra.
Sementara itu, Presiden FIFA Sepp Blatter dalam suratnya kepada Ketua KONI/KOI Rita Subowo menyatakan ikut memantau hasil-hasil rekomendasi Kongres Sepak Bola Nasional (KSN) di Malang, akhir Maret,
”It is with great interest that I have taken note of the results of National Football Congress 2010 (Dengan penuh semangat, saya telah mencatat hasil-hasil Kongres Sepak Bola Nasional itu),” tulis Blatter dalam surat tertanggal 13 April 2010 itu.
Salah satu rekomendasi KSN, PSSI harus melakukan reformasi dan restrukturisasi lembaga atas usul, saran, kritik, dan harapan masyarakat.