Pengguna "Busway" Keluhkan Waktu Tunggu

Kompas.com - 24/04/2010, 16:01 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Hasil survei Yayasan Layanan Konsumen Indonesia (YLKI) mengenai pelayanan transportasi bus transjakarta atau busway menunjukkan bahwa mayoritas pengguna bus transjakarta mengeluhkan lamanya waktu tunggu bus di halte.

Hal itu diungkap YLKI saat acara Forum Dialog Konsumen Bus Transjakarta, di Jakarta, Sabtu (24/4/2010), yang diadakan oleh YLKI serta Institute for Transportation Development Policy (ITDP). Ikut hadir perwakilan Dinas Perhubungan Darat, operator bus transjakarta, kepolisian serta konsumen bus transjakarta.

Pengurus harian YLKI, Tulus Abadi, menjelaskan, pihaknya telah melakukan survei terhadap 3.000 pengguna bus transjakarta di delapan koridor pada pertengahan Maret 2010. Hasil survei, 22,4 persen responden mengeluhkan harus menunggu bus lebih dari 20 menit, 28,8 persen menunggu 10-15 menit, 20,6 persen menunggu 15-20 menit, 24 persen menunggu 5-10 menit, dan hanya 3,9 persen menunggu bus di bawah lima menit.

Tulus mengatakan, lamanya waktu tunggu bus akibat tidak sterilnya jalur bus transjakarta dari kendaraan pribadi serta rusaknya jalan sehingga menghambat laju bus. Menurut dia, hal itu terjadi karena kurangnya komitmen petugas, baik satgas bus transjakarta maupun polisi di lapangan untuk menjaga jalur.

"Mereka (petugas) memperbolehkan kendaraan masuk ke jalur. Apa pun kondisi jalan (macet), jika untuk kepentingan publik jalur harus steril. Karena salah satu tujuan dibangunnya transjakarta agar pengguna kendaraan pribadi beralih ke busway," tegasnya.

Sekretaris Dinas Perhubungan DKI Jakarta Hasbi Hasibuan mengatakan, pihaknya akan membangun portal otomatis di 25 titik untuk mensterilkan jalur bus transjakarta. Menurut dia, lamanya waktu tunggu bus bukan hanya akibat jalur yang tidak steril, melainkan minimnya stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBBG).

"Sebanyak 426 bus yang beroperasi setiap hari, tapi bus bisa berjam-jam menunggu untuk mengisi BBG. Karena itu, minggu depan mulai beroperasi dua SPBBG lagi. Bayangkan saja, butuh dua tahun untuk mempersiapkan SPBBG itu," jelas dia.

Wakil Direktur Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya AKBP Ari Subiyanto mengatakan, pihaknya terpaksa mengalihkan kendaraan pribadi ke jalur bus transjakarta jika kemacetan parah. Hal itu diperparah dengan aksi demo yang hampir terjadi setiap hari. "50 pendemo saja sudah bisa menutup jalan. Harus ada regulasi pembatasan jumlah kendaraan," kata dia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau