Miras oplosan

Korban Tewas Miras di Pati Jadi 6 Orang

Kompas.com - 24/04/2010, 21:33 WIB

PATI, KOMPAS.com — Jumlah korban meninggal dunia akibat minuman keras oplosan di Desa Ngemplak Kidul, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, bertambah tiga orang.

Menurut Kepala Polres Pati AKBP Listyo Sigit Prabowo melalui Kasat Narkoba AKP Suyadi di Pati, Sabtu (24/4/2010), ketiga korban meninggal tersebut adalah Muhamad Kasan (27) warga Desa Ngemplak Kidul, Sumaji (26) warga Desa Karang Legi, dan Rustam (29) warga Desa Ketanen, Kecamatan Trangkil. Mereka meninggal di RSUD Suwondo Pati pada Jumat kemarin.

Sehari sebelumnya, Kamis (22/4/2010), tiga orang meninggal dunia setelah mengonsumsi minuman keras oplosan yang dibeli dari sebuah warung jamu di Desa Ngemplak Kidul.

Mereka yang meninggal dunia bernama Teguh Karya (18) warga Desa Mojoagung (Kecamatan Trangkil), M Pribawono (27) warga Desa Purworejo, dan Susilo (35) warga Desa Cebolek yang sama-sama dari Kecamatan Margoyoso. Ketiganya juga meninggal di RSUD Suwondo.

Tiga korban lainnya yang hingga sekarang masih kritis dan menjalani perawatan adalah Sumaun (26) dan Narimo Achmad (29). Keduanya warga Desa Ketanen, Kecamatan Trangkil, dan dirawat di RSUD Suwondo, sedangkan Supriyanto (30) warga Desa Asem Papan, Kecamatan Trangkil, dirawat di Rumah Sakit Mitra Bangsa Pati.

Dokter jaga RS Mitra Bangsa Pati, Edi Siswanto, menjelaskan bahwa korban yang bernama Supriyanto dibawa ke ruang ICU dalam keadaan kritis. "Dari hasil pemeriksaan sementara, korban menderita asidosis metabolik yang mengakibatkan rusaknya fungsi beberapa organ, seperti liver dan ginjal," ujarnya.

Penyebab utama penyakit yang diderita pasiennya itu adalah alkohol dan metanol di dalam tubuhnya yang membuat keasaman darah meningkat. "Berdasarkan keterangan keluarga, sebelumnya korban meminum jamu. Namun, jenisnya belum diketahui," ujarnya. Ia menduga korban minum minuman yang mengandung alkohol dan metanol. "Kondisi korban saat ini masih kritis," ujarnya.

Untuk itu, darah korban diperiksa di laboratorium secara lengkap karena ada kelainan. "Kami masih melakukan koreksi kelainan pada organ dalam," ujarnya.

Siti Mardiyah, istri Supriyanto, mengaku tidak tahu pasti penyebab keracunan pada suaminya. Sebelumnya, kata dia, suaminya sempat mengeluhkan rasa pusing dan ingin muntah, sehari sebelum dibawa ke rumah sakit. "Usai pulang bekerja, suami saya mengeluh cegukan dan pusing-pusing serta muntah-muntah," ujarnya.

Setelah didesak, suaminya mengaku sempat menenggak minuman keras oplosan di salah satu warung jamu di Desa Ngemplak Kidul Margoyoso. "Saya hanya bisa pasrah dengan kondisi suami saya yang masih terbaring di ruang ICU RS Mitra Bangsa," ujarnya. Selama ini, kata dia, Supriyanto bekerja serabutan dan setiap sepekan mengaku sering membeli minuman di warung tersebut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau