PT Drydocks Belum Operasi

Kompas.com - 26/04/2010, 03:14 WIB

BATAM, KOMPAS - PT Drydocks World Graha di Kota Batam, Kepulauan Riau, Senin (26/4) ini belum siap beroperasi normal. Dengan demikian, sekitar 9.000 buruhnya yang mayoritas berstatus outsourcing tetap dirumahkan hingga waktu yang belum pasti.

Manajer Sumber Daya Manusia PT Drydocks World Graha Baharum, kemarin, menyatakan, sejumlah kerusakan akibat amuk massa buruh pada Kamis pekan lalu belum diperbaiki karena petugas penghitung kerugian belum bekerja.

”Tapi, faktor yang tak kalah pentingnya adalah keamanan. Kami ingin semua karyawan, baik (warga negara) asing maupun lokal, bekerja dalam kondisi aman dan nyaman. Ini yang masih diusahakan,” katanya.

Sebagaimana diberitakan, ribuan buruh galangan kapal PT Drydocks World Graha di Batam, Kepulauan Riau, mengamuk di dalam lokasi pabrik, Kamis pekan lalu. Aksi yang awalnya dipicu pernyataan bernada rasisme oleh seorang pekerja ekspatriat itu ditengarai merupakan akumulasi perasaan tertindas akibat ketidakadilan yang dialami buruh selama ini.

Aksi yang berlangsung sekitar dua jam itu menyebabkan kantor manajemen dan gudang penyimpanan peralatan kerja rusak dan hangus terbakar. Kaca-kaca pecah. Dokumen kantor, termasuk gambar produksi, musnah.

Kantor pemilik tak luput dirusak pula. Sedikitnya 27 mobil dirusak, enam di antaranya dibakar. Mobil tersebut milik perusahaan, pribadi, dan tamu.

Selain PT Drydocks World Graha, PT Drydocks World memiliki dua anak perusahaan lainnya di Batam, yakni PT Drydocks World Pertama dan PT Drydocks World Nanindah. Ketiga perusahaan galangan kapal tersebut berada dalam satu kawasan di Tanjung Uncang, Kecamatan Batu Aji, Batam.

Pascaamuk massa buruh di PT Drydocks World Graha, ketiga perusahaan itu lumpuh. Namun, Senin ini PT Drydocks World Pertama dan PT Drydocks World Nanindah sudah bisa beroperasi.

Pengamanan

Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Kepulauan Riau Ajun Komisaris Besar Anggaria Lopis mengatakan, pengamanan di kawasan PT Drydocks World Graha masih terus dilakukan. Terkait kembali beraktivitasnya ribuan buruh, Senin pagi ini, Anggaria menyatakan, pengamanan dilakukan seperti biasa.

Setelah amuk massa buruh itu, Polda Kepulauan Riau menyiagakan dua satuan setingkat kompi. Sebanyak 100 personel dari Polda Kepulauan Riau bertugas dalam dua putaran (shift) dan 105 personel dari Polda Riau berada di lokasi selama 24 jam.

”Kondisinya (sekarang) sudah cukup kondusif. Pengamanan kami lakukan untuk antisipasi dan menghindari hal-hal yang tak diinginkan. Untuk penarikan pasukan, masih menunggu perkembangan situasi,” lanjut Anggaria.

Chief Executive Officer Drydocks World Denis Welch menegaskan, pihaknya tidak akan menarik investasi dari Batam. Bahkan, ia berharap bisa meneruskan investasi jangka panjangnya. ”Kami punya rencana besar di Batam. Kami berharap bisa di Batam selama 25 tahun,” ujar Denis, Jumat pekan lalu.

Tentang dua proyek besar yang sedang dikerjakannya, Drydocks World meyakinkan bahwa proyek tersebut akan terus dilanjutkan di Batam.

Ketua Indo India Batam Devarajan Prakash menyatakan permohonan maaf atas insiden pada Kamis pekan lalu itu. Rencananya, pihaknya akan menghimpun tanda tangan warga India di Batam sebagai lampiran surat tanda permohonan maaf terkait.

”Kami sudah tinggal lama di Batam dan tidak ada masalah selama ini. Jadi, atas insiden kemarin, kami minta maaf kepada masyarakat Indonesia. Semoga insiden kemarin bisa menjadi pelajaran bagi semua pihak untuk saling menghormati,” kata Prakash. (LAS)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau