Lingkungan

Bakau untuk Menjaga Jakarta

Kompas.com - 26/04/2010, 03:19 WIB

Pemanasan global, yang saat ini menjadi isu utama lingkungan, agaknya juga dipahami murid-murid sekolah dasar. Buktinya, ada 30 murid SD yang terlihat sangat antusias menanam bakau atau mangrove di kawasan pesisir Pantai Indah Kapuk, Penjaringan, Jakarta Utara, pada Sabtu (24/4) pagi.

Tanpa segan-segan, para murid yang datang dari berbagai sekolah di Jakarta itu turun ke dalam air berlumpur hitam. Mereka tidak hanya menanam satu pohon, tetapi beberapa pohon setiap orangnya.

Ya, mereka berada di sana karena ingin menjadikan Jakarta lebih hijau. Dengan demikian, polusi yang ada bisa berkurang, dan Jakarta menjadi tempat yang nyaman untuk hidup.

Penanaman bakau itu sebenarnya dimotori oleh Taman Wisata Mekarsari yang menjadikan konservasi sebagai salah satu misinya. Bekerja sama dengan Kidzania, Artha Graha Peduli, dan beberapa pihak lainnya, mereka menggelar acara ini sebagai bagian dari rangkaian Festival Hutan yang akan berlangsung pada 13-16 Mei 2010.

”Walau acara Festival Hutan masih satu bulan lagi, rangkaian kegiatan sudah kami lakukan sejak satu bulan sebelumnya,” kata Hari Tanjung, Direktur Utama Taman Wisata Mekarsari.

Rencananya Mekarsari akan menanam 10.000 pohon bakau di wilayah utara Jakarta ini. Nantinya, pohon-pohon bakau tersebut akan menjadi hutan lindung sehingga tidak ada yang boleh menebang pohon mangrove.

Jika sudah menjadi hutan, tentu bisa menjadi habitat bagi satwa liar seperti burung, biawak, ular, dan monyet.

Rencana ini tentu saja disambut gembira oleh Direktur Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial Kementerian Kehutanan Indriastuti yang juga hadir di acara itu.

”Penanaman bakau ini sejalan dengan komitmen Pemerintah Indonesia untuk mengurangi emisi hingga 26 persen pada tahun 2020. Bakau atau mangrove ini termasuk tanaman yang menyerap karbon paling banyak,” kata Indriastuti.

Selain itu, keputusan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yakni satu orang satu pohon pada tahun 2009, sudah tercapai. Namun, pada tahun 2010 ini target penanaman pohon ditingkatkan menjadi satu miliar pohon.

”Pemerintah sangat serius untuk mengurangi emisi. Oleh karena itu, sekarang pemerintah melakukan gerakan ’One Billion Indonesian Trees to the World’,” kata Indriastuti.

Keberadaan hutan mangrove di pantai Jakarta ini juga bisa melindungi akses menuju bandara. Beberapa kali jalan menuju bandara terkena limpasan gelombang laut sehingga mengganggu jadwal penerbangan.

Selain mencegah gelombang tinggi dan abrasi pantai, hutan mangrove juga bisa mencegah intrusi air laut masuk lebih jauh ke daratan kota Jakarta. Intrusi air laut ini membuat air tanah tidak bisa dimanfaatkan oleh masyarakat kota Jakarta.

Menurut Indriastuti, keberadaan bakau juga bisa menambah penghasilan masyarakat.

”Di tempat ini bisa dibudidayakan kepiting. Buah mangrove juga bisa dimanfaatkan sebagai sirup, dodol, dan bahan sabun,” tutur Indriastuti.

Lomba

Selain menanam mangrove, Taman Wisata Mekarsari juga mengunjungi 50 SD se-Jabodetabek untuk menanam pohon buah dan tanaman keras di halaman sekolah mereka.

”Kami juga sudah membuat hutan kecil di Mekarsari agar pengunjung bisa menikmati hutan di sana,” ujar Hari.

Bagi pengunjung yang ingin belajar menanam, mereka bisa belajar secara gratis di Mekarsari setiap Sabtu dan Minggu mulai tanggal 1 April sampai 11 Mei 2010.

Beberapa lomba yang memakai tema konservasi juga diselenggarakan, seperti lomba gambar-mewarnai, tari kreasi, karya tulis, dan juga fotografi.

”Total hadiahnya mencapai Rp 50 juta,” kata Hari. (ARN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau