Ujian nasional

Lolos PTN Belum Tentu Lulus UN...

Kompas.com - 27/04/2010, 09:47 WIB

Oleh Cornelis Helmi dan Ester Lince

KOMPAS.com — Rasa sedih dan khawatir kini menghinggapi AP, seorang siswa SMA Negeri 3 Bandung. Rasa sukacita karena sudah diterima di Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, harus dipendam dulu. Ia ternyata tidak lulus ujian nasional.

AP dinyatakan tidak lolos ujian nasional (UN) karena mendapatkan nilai 3,5 untuk mata pelajaran Biologi. Padahal, jika dilihat dari rata-rata nilai lulus, total nilai yang didapatkannya 75,75. Ia mendapatkan total nilai 45,45 dengan nilai tertinggi pada pelajaran Fisika dengan nilai 9.

"Kami kini sedang berusaha menumbuhkan kembali motivasinya," kata Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMA Negeri 3 Bandung Oman Setiadi, Senin (26/4/2010).

Motivasi ini penting agar AP bisa mengerjakan UN ulang pada Mei dengan nilai baik. Motivasi serupa ditanamkan kepada tujuh siswa SMAN 3 Bandung lainnya yang tidak lulus UN.

"Adanya siswa yang tidak lulus UN baru sekali ini terjadi. Biasanya 100 persen siswa SMAN 3 Bandung lulus UN," kata Oman.

Begitupun AP. Sehari-hari ia mendapat nilai bagus. Karena itulah teman-temannya tidak heran ketika AP diterima di ITS, Surabaya. "Kami tidak tahu mengapa ia mendapat nilai buruk. Apakah saat UN kondisinya kurang bagus atau sebab lain. Namun, kami akan mencoba melakukan verifikasi proses pemindaian jawaban ujian," kata Oman.

Harus mengulang

Rasa kaget juga dirasakan seorang siswi SMAN 79 Jakarta. Karena prestasinya selama ini baik, siswa itu bisa masuk tanpa tes ke Institut Pertanian Bogor (IPB). Namun, ternyata, saat UN diumumkan pada Senin kemarin, siswa itu tidak lulus untuk mata pelajaran Matematika dan harus mengulang.

"Anak-anak yang tidak lulus UN jangan divonis bodoh. Yang penting sekarang, anak-anak yang tidak lulus UN dipersiapkan mental dan penguasaan materi untuk menghadapi UN ulang," kata Kepala SMAN 79 Jakarta Maman Suwarman.

Maman menekankan kepada 36 siswa jurusan IPS dan IPA yang dinyatakan tidak lulus (sekarang dinyatakan mengulang) yang diminta datang ke sekolah, Senin, untuk tetap berbesar hati karena bukan berarti mereka anak-anak yang bodoh. Siswa yang sebagian besar gagal memenuhi nilai minimal kelulusan pada mata pelajaran Matematika itu diyakinkan apa yang menimpa mereka bukan kegagalan karena masih ada UN ulangan pada 10 Mei.

Menurut Maman, dirinya selaku kepala sekolah, wali kelas, dan guru bimbingan penyuluhan (BP) akan terus membantu siswa yang tidak lulus supaya bisa bangkit kembali percaya dirinya. Dengan mental yang cepat pulih, siswa akan lebih siap di-drill untuk menguasai materi UN ulangan nanti.

Maman membesarkan hati siswanya yang sudah diterima tanpa tes di IPB bahwa peluangnya masih ada. Pengumuman kelulusan UN ulangan pada awal Juni nanti.

"Sepertinya masih bisa untuk masuk sampai batas pendaftaran ulang nanti di IPB," ujar Maman.

Sekolah baru memanggil orangtua siswa yang mengulang pada Selasa ini. Keluarga diminta untuk tidak memarahi dan memvonis anak karena kegagalan di UN utama.

"Sekolah mesti didukung keluarga untuk membangkitkan kepercayaan diri anak-anak untuk siap menghadapi UN ulangan," ujar Maman.

Di Yogyakarta, rasa sedih dan kecewa juga menghinggapi seorang siswa jurusan IPS di SMA Internasional Budi Mulia II Yogyakarta. Ia sudah diterima di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, melalui Jalur Masuk UGM. Namun, nilai ujian yang rendah memaksanya untuk mengikuti UN ulang pada Mei.

"Soal-soal Matematika dan Geografi saat UN lalu memang sulit. Namun, saya tak menyangka bakal tidak lulus," ujarnya dengan suara lirih.

Ia kini sedang bersiap-siap untuk segera mengikuti pendalaman materi menghadapi UN ulang. UN ulang kini menjadi harapan utama bagi siswa yang tidak lulus dalam UN utama.

Jumlah siswa yang tidak lulus UN tidaklah sedikit. Berdasarkan data dari Kementerian Pendidikan Nasional, jumlah siswa SMA/MA yang tidak lulus UN sekitar 154.079 orang atau sekitar 10,12 persen dari 1.522.162 total peserta UN tahun 2010.

Dari siswa yang tak lulus itu, sekitar 10.979 orang di antaranya memiliki rata-rata nilai di bawah 5,5. Adapun siswa lainnya tidak lulus di satu mata pelajaran (99.433 orang), ada juga yang tak lulus di dua mata pelajaran (25.277 orang), dan hanya 930 siswa yang tak lulus di enam mata pelajaran yang diujikan.

"Kalaupun tidak lulus, jangan buru-buru patah semangat. Masih ada kesempatan mengikuti UN ulang," kata Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh. (Luki Aulia)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau