Perjalanan terakhir parahyangan

Kisah "Kilik-kilik" dan Nasi Goreng

Kompas.com - 27/04/2010, 13:04 WIB

KOMPAS.com — Ini dua cerita yang tersisa dari KA Parahyangan. Petugas restoran Parahyangan, Nanang (52), berbagi beberapa kisah yang dialaminya selama bertugas di KA tersebut selama 31 tahun. Ya, Nanang sudah menjadi pelayan makanan bagi para penumpang sejak tahun 1979. Banyak kisah yang kini dia jadikan kenangan, mulai dari cerita mistis hingga yang membuat tertawa dan bangga.

Salah satu cerita yang diungkapkan Nanang adalah hal mistis yang beberapa kali dialami saat melaju bersama Parahyangan pada malam hari. "Waktu itu, saya ikut kereta dari Bandung pukul 5 sore dan kembali lagi pada malam hari dari Jakarta. Sampai Bandung kira-kira pukul 1 dini hari-lah. Ada dua penumpang duduk sebelahan di kereta eksekutif. Dua-duanya tidur. Kemudian, ada satu kru dan saya yang duduk di belakangnya," cerita Nanang, dalam perjalanan terakhir KA Parahyangan menuju Bandung, Senin (26/4/2010) malam.

Saat itu, salah seorang penumpang terbangun dan menggerutu ada yang menggelitikinya. "Dia kira penumpang yang di sebelahnya. Padahal, masih tidur juga," kata dia. Tak lama, satu penumpang lainnya yang terbangun dan menggerutukan hal yang sama. "Siapa sih yang gelitikin saya," ujar Nanang menirukan ucapan si penumpang. Setelah kedua penumpang itu, akhirnya giliran kru restoran yang duduk di sebelah Nanang yang merasa kegelian karena dikitik-kitik. "Akhirnya, karena takut, saya, kru, dan penumpang itu ramai-ramai ke restoran, ngumpul di situ. Ha-ha-ha," katanya sambil tertawa.

Kisah mistis di KA Parahyangan, boleh percaya atau tidak, sempat juga diutarakan oleh beberapa orang yang pernah mengalami hal sama.

Rahasia nasi goreng

Selain kisah mistis, ada pula cerita tentang kesohoran Nasi Goreng Parahyangan. Pada perjalanan terakhir malam tadi, menu itu pula yang jadi incaran. Dengan harga Rp 16.000 per porsi, malam itu lebih dari 50 porsi terjual. Dua termos nasi pun ludes. Saya sendiri sempat merasakannya. Jujur saja, rasanya biasa saja. Namun, entah kenapa, menurut Nanang, menu itu pula yang jadi idola.

Apa sih rahasianya? "Saya juga enggak terlalu tahu. Bikinnya itu di bawah (tidak di dalam kereta). Dibawa ke atas sudah jadi. Katanya sih, bumbunya itu masaknya lama, jadi ngeresap ke nasinya," terang Nanang.

Ia mengatakan, pada masa jayanya, ada orang yang hanya membeli tiket peron masuk ke stasiun dan menyempatkan mampir ke restoran KA Parahyangan hanya untuk menyantap seporsi nasi goreng. "Sejak dulu memang jadi andalan. Sejak saya kerja di sini tahun 1979 sudah banyak yang suka," ujarnya.

Setelah KA Parahyangan ditutup, Nanang kemungkinan akan dialihtugaskan menjadi pelayan di restoran KA baru, Malabar, yang menghubungkan Bandung-Malang. "Semoga menu nasi gorengnya dibawa ke Malabar juga, biar rame," kata dia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau